Ketika Siaga Menjadi Napas Kehidupan Kota

KETANGGUHAN kota berawal dari warganya. Budaya siaga bencana perlu tumbuh di setiap lingkungan.

Ketika Siaga Menjadi Napas Kehidupan Kota
BUDAYA MELEKAT: Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengajak, masyarakat membiasakan hidup siaga bencana mengingat Kota Bandung berada di kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Lembang. Kesiapsiagaan harus menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh: Yogo Triastop

Gempa tidak pernah mengirim kabar sebelum datang. Dalam hitungan detik, keadaan dapat berubah, memaksa setiap orang mengambil keputusan yang menentukan keselamatan diri dan orang lain.

Di kota yang berada dalam pengaruh aktivitas Sesar Lembang seperti Bandung, kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan bagian dari cara hidup.

Pesan itulah yang disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Menurutnya, budaya siaga bencana harus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya muncul ketika sirene berbunyi atau tanah mulai berguncang.

“Kesiapsiagaan menghadapi bencana harus berada dalam konteks kultural atau pembudayaan. Jangan dianggap sekadar persoalan teknis, tetapi harus menjadi kebiasaan masyarakat,” katanya, Selasa (4/8).

Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat, Bandung tidak hanya menghadapi risiko bagi warganya sendiri. Setiap bencana yang terjadi berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas, baik terhadap aktivitas pemerintahan, ekonomi, maupun mobilitas masyarakat di kawasan sekitarnya. Karena itu, memahami langkah-langkah penyelamatan sejak dini menjadi bekal yang tidak bisa ditunda.

Budaya siaga, menurut Farhan, dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Mengenali titik evakuasi, mengetahui jalur penyelamatan, memahami prosedur ketika terjadi keadaan darurat, hingga memiliki kepedulian untuk membantu sesama merupakan kebiasaan kecil yang dapat menyelamatkan banyak nyawa.

Namun kesiapsiagaan tidak cukup dibangun dengan papan petunjuk atau simulasi semata. Ada nilai yang jauh lebih penting, yakni gotong royong. Nilai itu, kata Farhan, telah lama menjadi karakter masyarakat Indonesia dan harus tetap hidup ketika menghadapi ancaman bencana.

“Gotong royong adalah budaya sekaligus kepribadian bangsa. Tugas menjaga kota ini bukan semata-mata tugas pemerintah, tetapi harus melibatkan partisipasi masyarakat,” ujarnya.

Karena itu, dia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada pola pikir individualistis. Ketangguhan sebuah lingkungan justru lahir ketika warganya saling mengenal, saling peduli, dan saling membantu saat keadaan darurat datang.

Semangat tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai organisasi masyarakat, mulai dari RT dan RW, Posyandu, PKK, Karang Taruna, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Taruna Siaga Bencana (Tagana), hingga Kampung Siaga Bencana. Organisasi-organisasi itu menjadi simpul penting yang menghubungkan warga dalam membangun sistem kesiapsiagaan di tingkat lingkungan.

(gin)


Editor : Inilahkoran