Koperasi Dukung Petani Peternak

Koperasi Dukung Petani Peternak
KOPERASI: Bupati Bandung Dadang Supriatna membahas koperasi saat menghadiri sebuah agenda di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

INILAH, Bandung - Pagi di pedesaan Kabupaten Bandung selalu dimulai dengan kesibukan yang sama. Petani menuju sawah, peternak merawat ternaknya, sementara pelaku usaha kecil menyiapkan dagangan.

Dari tangan-tangan mereka, roda ekonomi daerah terus berputar. Kini, pemerintah ingin memastikan putaran itu bergerak lebih kuat melalui koperasi.

Pemerintah Kabupaten Bandung menempatkan koperasi sebagai salah satu pilar utama penggerak ekonomi kerakyatan. Fokusnya tidak hanya memperbesar jumlah koperasi, tetapi juga memperkuat perannya dalam mendukung sektor pertanian dan peternakan yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Bupati Bandung Dadang Supriatna mengatakan, penguatan tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Kementerian Koperasi agar koperasi mampu berkembang menjadi lembaga ekonomi yang semakin profesional dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami ingin memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Koperasi agar koperasi di Kabupaten Bandung semakin mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat, khususnya di sektor pertanian dan peternakan,” katanya, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (4/8).

Harapan itu bukan tanpa alasan. Kabupaten Bandung memiliki modal yang besar. Data Dinas Koperasi UMKM mencatat sekitar 1.700 koperasi berdiri di daerah tersebut, dengan lebih dari 1.000 di antaranya masih aktif menjalankan berbagai bidang usaha.

Di sisi lain, hamparan sekitar 36 ribu hektare lahan pertanian menjadikan Kabupaten Bandung sebagai salah satu sentra produksi pangan penting di Jawa Barat. Potensi itulah yang ingin dipadukan dengan kekuatan koperasi agar hasil pertanian dan peternakan memiliki nilai tambah yang lebih besar.

Menurut Dadang, koperasi tidak lagi cukup berperan sebagai tempat berkumpulnya anggota. Lembaga ini harus hadir di setiap mata rantai usaha, mulai dari penyediaan sarana produksi, akses pembiayaan, pengolahan hasil panen, hingga membuka jalan menuju pasar yang lebih luas. (gin)


Editor : Inilahkoran