Kisah Heroik Neni, Rela Luka Robek demi Selamatkan Anak dari Bencana Longsor Lembang
Neni Triani (50), warga Kampung Andir, Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini harus berjuang memulihkan luka
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Neni Triani (50), warga Kampung Andir, Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini harus berjuang memulihkan luka di kedua kakinya yang butuh 36 stitches atau jahitan medis.
Namun, di balik rasa sakit itu, ada rasa syukur yang tak terkira. Luka robek parah itu ia dapatkan bukan tanpa alasan, melainkan buah dari keberaniannya menerobos bahaya dan memecahkan kaca jendela rumah saat banjir serta longsor melanda demi menyelamatkan nyawa anak kandungnya sendiri pada Sabtu (23/5/2026).
Peristiwa pilu itu bermula saat hujan lebat disertai angin kencang mengguyur wilayah tersebut sekitar pukul 15.00 WIB. Awalnya, warga hanya menyadari aliran air di saluran pembuangan terlihat tersumbat.
Namun kondisi berubah drastis dalam hitungan menit, air yang tidak mengalir akhirnya meluap ke jalan dan pekarangan rumah, berubah menjadi arus deras yang mengancam keselamatan warga.
"Hujannya agak besar, angin juga kencang. Terus ada kabar dari warga kalau saluran air mampet. Lama-lama air makin tinggi, meluap, dan akhirnya terjadilah banjir di lingkungan kami," ungkap Neni saat menceritakan detik-detik mencekam itu, Selasa (26/5/2026).
Neni mengaku sama sekali tidak menyangka, curah hujan tinggi itu bakal memicu longsor pada tebing yang posisinya berada tepat di atas pemukiman, termasuk rumahnya.
Saat kejadian, ia dan anaknya sempat berada di teras rumah. Lalu menyuruh anaknya masuk sebentar ke dalam untuk mengambil ponsel. Belum lama anaknya masuk, tiba-tiba dinding kamar anak tersebut ambles diterjang tumpukan tanah dan batu cadas yang longsor, diduga dari kegagalan fungsi Tembok Penahan Tanah (TPT) di atasnya.
"Saya masih di luar, nyuruh anak ambil HP di dalam. Pas dia masuk, tiba-tiba ada bagian rumah yang jebol persis di kamar anak saya. Pas saya lihat, pintu kamar sudah terkunci dan ada toren air di belakangnya," ujarnya.
"Air sudah naik sangat tinggi. Saya sempat mengira anak saya tertimpa bangunan, langsung teriak-teriak panik," sambungnya.
Dalam kepanikan dan ketakutan luar biasa, Neni tak berpikir panjang. Ia mendengar suara anaknya di dalam yang terperangkap sementara air terus meninggi hingga setinggi dada orang dewasa.
Ia sempat berteriak menyuruh anaknya lari ke arah dapur, namun ternyata bagian dapur juga sudah ambles dan kemasukan air. Melihat tak ada jalan lain, Neni nekat menghancurkan kaca jendela untuk membuat jalan masuk.
"Saya panik sekali, cari cara bagaimana supaya anak saya bisa selamat. Sempat suruh dia ke dapur, tapi di sana juga sudah jebol dan banjir. Airnya deras sekali. Akhirnya saya nekat mecahin kaca jendela, pikiran saya cuma satu, masuk dan selamatkan anak saya," paparnya.
"Setelah kaca pecah, saya sempat bersihkan sisa pecahan yang tajam supaya bisa lewat, lalu saya naik ke atas toren air, ambil kayu panjang, dan julurkan ke anak saya supaya dia bisa meraih dan keluar," sambungnya.
Sang anak pun berhasil diselamatkan berkat inisiatif cepat ibunya. Setelah kondisi dirasa aman datang, Neni menyadari kakinya berdarah hebat. Pecahan kaca yang ia hancurkan dan injak saat beraksi mengakibatkan luka robek panjang di lutut kiri dan telapak kaki kanan.
Ia langsung dilarikan ke RSUD Lembang dan tim medis harus menjahit lukanya sebanyak 30 jahitan di kaki kiri dan 6 jahitan di kaki kanan. Meski perih, Neni mengaku sama sekali tidak merasakan sakit saat kejadian karena fokusnya sepenuhnya pada keselamatan anaknya.
"Enggak kerasa sakit pas kejadian, fokus saya cuma anak saya. Alhamdulillah anak selamat dan tidak apa-apa, itu yang paling penting. Air waktu itu sudah se-dada, batu-batu besar juga banyak jatuh entah dari mana," bebernya.
"Luka ini kena sisa kaca, tapi enggak apa-apa dibanding kalau sampai kehilangan anak," ujarnya.
Kini, Neni dan seluruh keluarganya terpaksa harus mengungsi lantaran rumah yang menjadi tempat berteduh bertahun-tahun itu mengalami kerusakan parah di hampir seluruh bagian bangunan akibat terjangan material longsor dan genangan air, sehingga sudah tidak layak huni.
Berkat bantuan Ketua RW setempat, mereka sementara menumpang di rumah kontrakan warga lain. Sementara itu, sebagian besar barang-barang rumah tangga rusak terbawa arus atau tertimpa reruntuhan.
"Sekarang kami numpang di kontrakan bantuan Pak RW. Barang-barang banyak yang rusak atau hilang. Tapi kami ikhlas dan bersyukur masih selamat. Semoga lingkungan kami segera diperbaiki dan aman kembali," pungkasnya.***
Editor : JakaPermana


