Koperasi Maju Ekonomi Melaju
KOPERASI didorong tak lagi sekadar bertahan, tetapi tumbuh menjadi penggerak ekonomi rakyat. Jawa Barat pun mulai menyiapkan langkah menuju transformasi itu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Yuliantono
Koperasi kembali dipanggil untuk memainkan peran yang lebih besar.Bukan lagi sekadar tempat simpan pinjam, tetapi menjadi rumah bersama yang mampu menggerakkan produksi, menciptakan lapangan usaha, dan memperkuat ekonomi rakyat.
Semangat itu mengemuka dalam peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Barat di Sentra Bisnis KUKM (Senbik KUKM), Kota Bandung, Kamis (30/7).
Mengusung tema “Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya”, peringatan tahun ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan. Pemprov Jabar menjadikannya sebagai titik awal transformasi koperasi agar lebih modern, profesional, dan mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan menegaskan, koperasi masih menjadi instrumen penting dalam memperkuat fondasi ekonomi masyarakat. Bahkan, pemerintah provinsi tengah membuka peluang penyusunan regulasi yang mendorong setiap perusahaan memiliki koperasi karyawan.
“Mari kita perkuat lagi perekonomian kita dengan koperasi.
Kita buat regulasi yang bagaimana mewajibkan setiap perusahaan-perusahaan, terutama perusahaan besar, ini ada koperasi karyawan,” ujar Erwan.
Menurutnya, koperasi di lingkungan perusahaan dapat menjadi wadah pemberdayaan ekonomi pekerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan anggota secara berkelanjutan.
Namun, tantangan koperasi hari ini tidak hanya soal jumlah, melainkan juga bagaimana mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Jawa Barat, Yuke Mauliani Septina mengatakan, koperasi harus meninggalkan pola lama dan bertransformasi menjadi organisasi bisnis yang profesional serta berdaya saing.
“Yang pasti kita tidak melaksanakan warisannya, tetapi kita mengambil masa depan kooperasinya,” katanya.
Saat ini, Jawa Barat memiliki sekitar 33 ribu koperasi.
Dari jumlah tersebut, sekitar 25 ribu berstatus aktif dengan total anggota mencapai 7,7 juta orang.
Meski demikian, angka tersebut dinilai masih jauh dari potensi Jawa Barat yang memiliki sekitar 50 juta penduduk, termasuk sekitar 36 juta jiwa usia produktif.
Karena itu, regenerasi menjadi salah satu agenda utama yang didorong pemerintah.
Pemprov Jabar berencana membawa gerakan koperasi lebih dekat dengan dunia pendidikan agar generasi muda mengenal koperasi sejak dini.
“Nah ini yang perlu kita gaungkan, harus kita kenalkan koperasi-koperasi.
Makanya tadi saya ke Pak Wagub, Pak kita ada keinginan untuk meregenerasi koperasi.
Masuk ke sekolah-sekolah, mudah-mudahan bisa disupport,” ujar Yuke.
Selain regenerasi, arah pengembangan koperasi juga mulai bergeser. Jika selama ini banyak bergerak di sektor konsumsi, ke depan koperasi didorong menjadi kekuatan utama di sektor produksi.
Fokus pengembangan diarahkan pada bidang pertanian, peternakan, dan perikanan yang menjadi keunggulan Jawa Barat.
Dalam skema tersebut, koperasi tidak hanya berperan membeli atau menjual hasil panen, tetapi menjadi agregator, distributor, sekaligus penghubung rantai pasok sehingga produk petani, peternak, dan nelayan memiliki nilai tambah sebelum dipasarkan.
Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Pemprov Jabar menggandeng sejumlah BUMN dan kementerian, termasuk Perum Bulog dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), guna memperkuat fasilitas pergudangan serta cold storage di wilayah Indramayu, Karawang, dan Subang.
Yuke menilai, Indonesia perlu belajar dari berbagai negara yang berhasil menjadikan koperasi sebagai kekuatan ekonomi nasional.
“Jadikan kooperasi itu jadi holding company. Itu untuk yang membangkitkan gairah anak muda, bahwa kooperasi itu bisa jadi holding company,” katanya.
Dia berharap, pembaruan Undang-Undang Koperasi nantinya mampu membuka akses pembiayaan yang lebih luas sehingga koperasi tidak hanya bergantung pada skema Kredit Usaha Rakyat (KUR). (gin)
Editor : Inilahkoran

