Kopi Garut Siap Ekspor: Peluang di Pasar Jepang
DI balik kabut tipis yang menyelimuti perbukitan Garut, Jawa Barat, ada aroma khas yang kini tengah bersiap melanglang buana.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Bsafaat
Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Garut menyatakan kesiapannya untuk memenuhi permintaan ekspor kopi ke Jepang.
“Kalau dari kita secara produksi sangat memungkinkan, tinggal kebutuhan kopi yang diinginkan oleh Jepang itu seperti apa,” kata Kepala Dispertan Kabupaten Garut Ardhy Firdian di Garut, Selasa (9/9).
Ia menuturkan kesiapan Garut itu menindaklanjuti kunjungan Wali Kota Sue Machi, Prefektur Fukuoka, Jepang, Shuichi Hiramatsu ke Garut pada Agustus 2026 yang membahas potensi kerja sama, salah satunya peluang ekspor komoditas kopi.
Rencana kerja sama itu, kata dia, disambut baik Pemkab Garut karena daerah Garut merupakan penghasil kopi dengan luas lahan tahun 2025 tercatat untuk jenis kopi arabika mencapai 6.651,50 hektare dengan lahan yang menghasilkan seluas 4.027,00 hektare dan hasil produksi 3.244,35 ton.
Sedangkan kopi robusta, kata dia, di tahun 2025 tercatat luas areal keseluruhan 715,28 hektare dengan luas tanaman yang menghasilkan kopi seluas 529,68 hektare, dan hasil produksi 469,41 ton atau angka produktivitas total 886,21 kg per hektare.
Ia menyampaikan sejauh ini dari pihak Jepang belum menindaklanjuti terkait kerja sama ekspor komoditas kopi dari Garut itu, pihaknya selama ini masih menunggu tindak lanjutnya.
Namun sebelumnya, kata dia, pihak Jepang sudah melakukan kontak dengan produsen kopi yang ada di Kabupaten Garut karena penjajakan kerja sama itu sudah dilaksanakan jauh hari sebelum pertemuan pembahasan saat kunjungan resmi ke Garut.
“Secara umum pihak Jepang sudah melakukan kontak dengan pihak produsen kopi yang ada di sini, karena penjajakannya sudah dilaksanakan jauh hari sebelumnya,” katanya.
Ia menambahkan, Dispertan Garut dalam mendukung program kerjasama komoditas kopi tersebut akan berusaha untuk menjaga kualitas kopi yang dihasilkan di tanah Garut.
Saat ini, lanjut dia, pihaknya menunggu permintaan jenis kopi dan pengolahannya seperti apa yang dibutuhkan oleh Jepang, karena nanti akan memengaruhi nilai jualnya.
“Tinggal kualitas serta jenis pengolahan yang diinginkan seperti apa. Selain itu f Langkah ekspor kopi garut bukan sekadar tentang angka perdagangan atau komoditas ekonomi, melainkan kisah tentang dedikasi, keringat, dan asa para petani lokal yang berhasil membawa cita rasa tanah priangan ke panggung internasional.
Bagi masyarakat Garut, kopi bukan lagi sekadar tanaman musiman. Kopi adalah urat nadi kehidupan yang dirawat dengan penuh ketelitian.
Dari pemilihan benih, perawatan di ketinggian yang ideal, hingga proses pascapanen yang higienis, semuanya dilakukan demi menjaga kualitas prima.
Karakteristik kopi Garut yang memiliki keseimbangan rasa asam dan manis yang unik (unique acidity ) menjadi daya tarik utama yang memikat selera pasar Jepang yang terkenal sangat selektif.
Tantangan menembus pasar Jepang tentu tidak mudah. Negara tersebut menerapkan standar kualitas dan keamanan pangan yang sangat ketat. Namun, tantangan ini justru dijawab dengan optimisme oleh pemerintah daerah dan para petani.
Dispertan Garut mendampingi para petani secara konsisten, mulai dari edukasi teknik budi daya yang ramah lingkungan hingga fasilitasi teknologi pengolahan.
Sinergi ini memastikan bahwa setiap biji kopi yang dikirim memiliki konsistensi rasa dan mutu yang tinggi.Kesiapan ekspor ini membawa angin segar sekaligus harapan baru.
Di balik setiap cangkir kopi Garut yang nantinya dinikmati di kafe-kafe Tokyo atau Osaka, ada senyum para petani di kaki Gunung Cikuray dan Papandayan yang kesejahteraannya ikut terangkat. Ini adalah bukti nyata bahwa dengan ketekunan dan dukungan yang tepat, produk lokal mampu bersaing dan diakui oleh dunia. (bsf)
Editor : Inilahkoran

