Ledia Hanifa Dukung Penuh Aktualisasi Budaya di Jabar

Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah mendukung penuh aktualisasi budaya di Jawa Barat. Sebab, tidak sedikit yang terjebak beranggapan budaya hanyalah seni. Padahal, masih banyak hal lain yang sejatinya masuk dalam kategori budaya.

Ledia Hanifa Dukung Penuh Aktualisasi Budaya di Jabar
Melalui kegiatan bertajuk Semarak Budaya 2025, dengan melaksanakan Festival Nasi Liwet, berkolaborasi antara DPR RI, Kementerian Kebudayaan serta Akademi Sekretari dan Manajemen (ASM) Ariyanti di ASM Ariyanti, Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung, Minggu 27 April 2025 diharapkan mampu menambah wawasan akan budaya. (istimewa)

INILAHKORAN, Bandung - Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah mendukung penuh aktualisasi budaya di Jawa Barat. Sebab, tidak sedikit yang terjebak beranggapan budaya hanyalah seni. Padahal, masih banyak hal lain yang sejatinya masuk dalam kategori budaya.

Maka dari itu, melalui kegiatan bertajuk Semarak budaya 2025, dengan melaksanakan Festival Nasi Liwet, berkolaborasi antara DPR RI, Kementerian Kebudayaan serta Akademi Sekretari dan Manajemen (ASM) Ariyanti di ASM Ariyanti, Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung, Minggu 27 April 2025 diharapkan mampu menambah wawasan akan budaya.

Kegiatan itu pun sekaligus menyosialisasikan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, yaitu UU No 5 Tahun 2017.

"budaya tidak hanya soal seni, tapi juga mencakup adat istiadat, tradisi dan pengetahuan tradisional. Contohnya, tradisi makan bersama atau liwetan yang khas di Indonesia. Negara lain juga makan nasi, tapi tradisi liwet seperti kita tidak ada di sana. Ini menjadi kekhasan budaya kita," kata Ledia Hanifa.

Kekayaan budaya di Jabar kata dia, harus terus diaktualisasi dan dipertahankan supaya tidak tergerus zaman. Terlebih dengan tantangan saat ini, dengan hadirnya budaya luar termasuk kuliner.

"Kita perlu terus memajukan budaya, agar tidak hilang tergerus zaman. Kadang-kadang kita lebih suka budaya asing seperti K-pop atau budaya Jepang, padahal budaya kita juga kaya dan istimewa," ucapnya.

"Misalnya, dalam kuliner, seperti cilok, cimol, cireng, semuanya ada ilmunya mulai dari memilih tepung hingga teknik memasaknya. Bahkan kemarin saat membuat cilok, di dalamnya ada jengkol dan gula aren, inovasi yang menarik. Begitu pula tumpeng, yang punya makna dan ketentuan sendiri dalam adat istiadat," imbuhnya.

Ledia berharap, dengan adanya kegiatan ini tidak hanya sebagai upaya melestarikan budaya, tetapi menjadi ruang berkreasi dan sumber ekonomi bagi masyarakat luas.

"Kami ingin budaya tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang elitis untuk para budayawan, tetapi harus dipahami dan dimiliki oleh seluruh masyarakat. Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, budayawan, atau tokoh-tokoh budaya saja, semua pihak harus terlibat. Mudah-mudahan kita bisa mengumpulkan, menjaga, dan memajukan budaya-budaya kita dan Insya Allah memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan nasional ke depan," harapnya.

Sementara Direktur ASM Ariyanti Yana Swanjaya menyambut baik dengan adanya kegiatan yang digagas pemerintah ini bagi masyarakat di Jawa Barat.

"Mudah-mudahan kegiatan seperti ini dapat memperluas wawasan masyarakat mengenai kemajuan budaya Indonesia, khususnya di Bandung dan Cimahi. Hal-hal kreatif semacam ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk terus menciptakan produk-produk kuliner baru yang inovatif," tandasnya. 


Editor : Doni Ramdhani