Lembayung Pinus Camp Lahir sebagai Harmoni Alam dan Manusia di Ciwidey
Di antara barisan pohon pinus dan hamparan kebun teh, sebuah ruang komunal baru kini lahir. Bandung Selatan kini hadir menjadi penantang hegemoni Bandung Utara.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Di antara barisan pohon pinus dan hamparan kebun teh yang hijau, sebuah ruang komunal baru kini lahir. Bandung Selatan kini hadir menjadi penantang hegemoni Bandung Utara sebagai daerah favorit wisatawan.
Memanfaatkan bentang alamnya yang tak kalah dari kawasan Lembang, daerah Ciwidey di Kabupaten Bandung menyuguhkan beberapa destinasi wisata baru yang bakal memikat pelancong dari berbagai daerah.
Tak hanya sekadar tempat berwisata, kawasan ini menjadi bukti bagaimana warga desa, kelompok tani hutan, dan pengusaha lokal bisa berjalan beriringan membangun impian bersama.
Salah satunya Lembayung Pinus Camp. Tempat camping yang lahir dari harmoni alam dan manusia. Berawal dari jalur pendakian Sunan Ibu yang sudah melegenda selama tiga tahun terakhir, tempat ini kini bertransformasi menjadi rumah bagi para pencinta alam.
"Jadi ini konsepnya komunal, klub gitu. Enggak besar tapi kita suguhkan banyak fasilitas di dalamnya," kata Irvan, pengelola Lembayung Pinus Camp, Minggu (19/4/2026).
Tak perlu mendaki terlalu jauh ke dalam hutan, pengunjung sudah bisa merasakan sensasi berkemah yang tenang, tanpa bising kota, namun tetap terasa dekat dan nyaman. Dengan konsep yang humanis, pengelola menyediakan berbagai pilihan untuk siapa saja yang datang.
"Kita ingin tempat ini jadi titik temu. Mereka yang ingin mengejar matahari terbit, lalu menunggu matahari terbenam," ujar Irvan.
Satu hal yang istimewa adalah komitmen menjaga kemurnian udara. Di sini, pengunjung bisa bernapas lega di samping air terjun atau sambil menyeruput kopi. Istimewanya lagi, tanpa gangguan lalat yang biasanya hinggap di kawasan pertanian semuanya masih alami, bersih, dan terjaga berkat ekosistem kebun teh yang dirawat dengan hati.
"Mulai dari area camper van yang luas, glamping yang nyaman untuk keluarga, hingga kavling tenda. Nantinya kita akan selesaikan penataan dengan total 18 glamping, kemudian kavling camper van sekitar 34 spot. Sekarang kita kebut penataannya," katanya.
Sesuai namanya, daya tarik utama tempat ini hadir saat matahari mulai condong ke barat. Di sebuah selasar kayu yang sengaja dibangun menghadap cakrawala, pengunjung bisa duduk bersandar menanti momen 'Lembayung', semburat warna jingga di langit sebelum Magrib tiba
Momen syahdu ini rupanya tak hanya memikat wisatawan domestik saja. Bahkan, tamu pertama yang singgah di sini justru datang dari Negara Italia, ini membuktikan bahwa kehangatan alam Bandung Selatan mampu menyentuh hati siapa saja, dari mana pun mereka berasal.
"Jadi mereka yang mau kesini, itu enggak cuma yang camping saja tapi juga tracking. Jadi di pagi hari mereka menikmati sunrise, dan sesuai namanya kemudian di sore hari akan menikmati lembayung," imbuhnya.
Editor : Doni Ramdhani

