Tradisi Unik Domba Garut, Menaklukkan Arus Sungai Ciwidey Demi Napas Panjang Jawara
Matahari belum menampakkan diri ketika jarum jam menunjukkan pukul 05.30 WIB. Udara dingin masih menyelimuti Desa Jatisari, Kec Kutawaringin, Kabupaten Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Matahari belum menampakkan diri ketika jarum jam menunjukkan pukul 05.30 WIB. Udara dingin masih menyelimuti Desa Jatisari, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung.
Namun, suasana pagi itu tak menyurutkan kesibukan Noneng (55). Bersama suami dan enam anak serta menantunya, dia sibuk menaikkan enam ekor domba adu ke sebuah mobil pikap hitam beratap terpal biru.
Tujuannya bukan pasar, bukan pula arena kontes. Keenam domba Garut kesayangannya itu hendak dibawa berenang.
Jaraknya sekitar 20 kilometer, menuju aliran irigasi sungai Ciwidey di Kampung Sungapan, Desa Sukajadi, Kecamatan Soreang.
Bagi sebagian orang, aktivitas tersebut mungkin terlihat tak biasa. Tetapi bagi Noneng dan para penghobi domba adu, berenang merupakan bagian dari rutinitas merawat sang jawara.
domba tak hanya diberi pakan, vitamin dan obat-obatan. Mereka juga harus berolahraga untuk menjaga stamina, kekuatan fisik dan daya tahan napas.
"Biasanya domba adu itu direnangkan setelah dan sebelum kontes atau diadukan. Tujuannya agar badannya sehat, napasnya panjang dan badan yang pegal-pegal setelah diadu kembali pulih," kata Noneng kepada INILAHKORAN.ID di tepi irigasi sungai Ciwidey, Minggu (25/8/2026).
Bagi Noneng, membawa domba berenang ke sungai Ciwidey bukan hal baru. Ia menyebut lokasi tersebut sudah lama dikenal sebagai salah satu tempat favorit para pemilik domba adu di Bandung Raya.
Aliran sungai selebar sekitar empat meter itu dinilai cocok untuk melatih fisik domba. Kedalamannya berkisar 1,5 hingga 2 meter dengan arus yang cukup deras dan air yang relatif jernih.
Di tempat inilah domba-domba adu dilatih menghadapi arus. Satu per satu domba diceburkan ke sungai. Pemilik kemudian menuntunnya berenang melawan arus. Aktivitas itu dilakukan berulang hingga domba mulai kelelahan.
Setelah sesi renang selesai, domba dinaikkan ke tepi sungai. Tubuhnya kemudian diikat dan dijemur hingga kering.
"Antara 20 menit hingga satu jam domba diolahragakan berenang. Setelah itu dimandiin dengan sabun," tutur Noneng.
Tak berhenti sampai di situ. Perawatan juga menyasar bagian tanduk yang menjadi salah satu bagian penting bagi domba adu.
Menariknya, tanduk domba dibersihkan menggunakan pasta gigi dan sikat gigi bekas.
"Kalau bagian tanduk memang sengaja dibersihkannya pakai pasta gigi, agar tanduk yang merupakan senjatanya itu tetap kuat dan sehat," katanya.
Kecintaan Noneng terhadap domba adu bukan muncul secara tiba-tiba. Hobi tersebut diwariskan secara turun-temurun dari sang kakek. Kini, dia memiliki sekitar 30 ekor domba di rumahnya.
Aktivitas merawat domba bahkan menjadi kegiatan keluarga. Tak hanya mengurus ternak, Noneng bersama keluarga juga menjadikan agenda berenang domba sebagai kesempatan untuk berkumpul dan botram di pinggir sungai.
"Tempat berenang domba adu di sini bisa dibilang favorit semua pemilik domba adu di Bandung. Bahkan kami sengaja datang ke sini sekeluarga, sekalian botram di tepi sungai," ujarnya.
Menurutnya, para penghobi domba adu dari Kabupaten Bandung hingga Kota Bandung kerap mendatangi kawasan tersebut.
Pemandangan mobil pikap yang terparkir di tepi jalan, domba-domba yang diikat di pinggir sungai hingga para pemilik yang turun langsung ke air bukan lagi sesuatu yang asing.
Pantauan INILAHKORAN.ID pagi itu menunjukkan sedikitnya 20 ekor domba adu milik sejumlah penghobi dan padepokan sedang menjalani sesi latihan.
Ada pemilik yang sibuk menuntun dombanya masuk ke dalam air. Ada pula yang berdiri di tepian sambil mengawasi domba kesayangannya berenang melawan arus.
Sebagian lainnya sibuk memandikan dan membersihkan tubuh domba setelah sesi olahraga.
Di tengah derasnya aliran sungai Ciwidey, para domba itu tampak berusaha mempertahankan tubuhnya agar tetap melaju melawan arus.
Bagi para pemiliknya, pemandangan tersebut bukan sekadar aktivitas memandikan hewan.
Ada tradisi, kecintaan dan perawatan yang terus diwariskan.
Sungai Ciwidey pun setiap pagi tertentu berubah menjadi semacam "gym alami" bagi para domba Garut tempat para calon jawara menjaga napas, otot dan stamina sebelum kembali ke arena kontes.
Bagi Noneng dan para penghobi domba adu, merawat sang jawara bukan hanya soal memenangkan pertandingan.
Lebih dari itu, ada kebanggaan menjaga tradisi dan kecintaan terhadap domba Garut yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka secara turun-temurun.
Editor : Doni Ramdhani

