Literasi Keuangan Pelajar Masih 62,72 Persen, Edukasi Sejak Dini Diperkuat

92,76 persen, tetapi tingkat literasinya baru 62,72 persen. Kesenjangan ini, menunjukkan akses terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya diimbangi pemahaman ya

Literasi Keuangan Pelajar Masih 62,72 Persen, Edukasi Sejak Dini Diperkuat

INILAHKORAN.ID - Indeks inklusi keuangan pelajar mencapai 92,76 persen, tetapi tingkat literasinya baru 62,72 persen. Kesenjangan ini, menunjukkan akses terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya diimbangi pemahaman yang memadai. Sehingga edukasi keuangan sejak usia sekolah menjadi semakin penting.

Deputi Direktur Pelaksanaan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Halimatus Sa’diyah mengatakan, pelajar menjadi salah satu kelompok prioritas dalam penguatan literasi dan inklusi keuangan. Pemahaman serta penggunaan layanan keuangan di kalangan pelajar, masih berada di bawah rata-rata nasional.

“Edukasi sejak usia sekolah menjadi investasi penting untuk membangun kemampuan mengelola uang, memahami risiko dan memanfaatkan layanan keuangan secara bijak dan bertanggung jawab di masa depan,” kata Halimatus Sa’diyah, Kamis (28/0/2026).

Menurutnya, penguatan literasi keuangan membutuhkan kolaborasi pemerintah, industri jasa keuangan, sekolah, keluarga dan organisasi masyarakat. Kerja sama lintas sektor, diperlukan agar pembelajaran keuangan semakin relevan dan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu upaya memperkuat pemahaman keuangan di kalangan pelajar dilakukan melalui JA SparktheDream, program kolaborasi PT FWD Insurance Indonesia dan Prestasi Junior Indonesia (PJI). Memasuki tahun keempat, program ini menjangkau lebih dari 2.300 siswa sekolah menengah pertama (SMP) di 12 kota dan kabupaten.

Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, Rudy F. Manik menilai, pembelajaran keuangan sejak usia sekolah dapat membantu generasi muda menghadapi tekanan finansial dan ketidakpastian pendapatan pada masa mendatang.

“Melalui JA SparktheDream, FWD Insurance berkomitmen membantu mereka membangun kebiasaan finansial yang sehat serta kemampuan mengambil keputusan yang selaras dengan aspirasi mereka,” ujar Rudy F. Manik.

Program tersebut, tidak hanya memberikan materi di kelas. Tetapi juga melibatkan keluarga, dan sukarelawan dalam proses pembelajaran. Siswa kemudian ditantang mengidentifikasi persoalan sosial di lingkungan sekitar, dan merancang solusi melalui JA SparktheDream Social Challenge 2026.

Sebanyak 12 gagasan peserta mengangkat beragam persoalan mulai dari pembentukan kebiasaan finansial, keamanan keuangan digital hingga pengelolaan keuangan keluarga. Tim 13 Finsmart dari SMPN 13 Kota Bandung meraih juara pertama melalui FINHABIT, platform interaktif yang membantu pengguna berlatih mengambil keputusan keuangan dan membangun kebiasaan mengelola uang.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia (PJI), Utami Anita Herawati mengatakan, proses merancang solusi membantu siswa memahami penerapan pengetahuan keuangan dalam kehidupan nyata. Pendampingan guru, keluarga dan sukarelawan juga berperan mengasah kemampuan berpikir kritis, kreativitas serta kerja sama.

“Kami ingin siswa mampu menggunakan pengetahuan keuangan untuk mengambil keputusan, dan memahami persoalan di sekitarnya,” kata Utami Anita Herawati.

Sejak dimulai pada 2023, JA SparktheDream telah menjangkau lebih dari 8.200 siswa di sejumlah daerah termasuk Kota Bandung dan Cimahi. Dua tim terbaik dari kompetisi nasional, berhak mewakili Indonesia dalam kompetisi tingkat Asia Pasifik pada November 2026.

Foto istimewa : Sejumlah pelajar menerima penghargaan dalam JA SparktheDream Social Challenge 2026 atas inovasi literasi keuangan.


Editor : Ahmad Sayuti