Literasi Tetap Hidup di Tengah Wajah Baru Gasibu

Bukan lagi rak-rak buku yang memenuhi ruang, melainkan layar digital yang akan menjadi pintu baru menuju pengetahuan.

Literasi Tetap Hidup di Tengah Wajah Baru Gasibu
TRANSFORMASI PERPUSTAKAAN: Sekda Jabar Herman Suryatman menjelaskan mengenai transformasi layanan perpustakaan di Gasibu ke arah digital agar aktivitas literasi tak mandek.

INILAH, Bandung - Bukan lagi rak-rak buku yang memenuhi ruang, melainkan layar digital yang akan menjadi pintu baru menuju pengetahuan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengubah wajah layanan Perpustakaan Gasibu seiring penataan kawasan ikonik Gedung Sate-Gasibu.

Penutupan operasional fisik perpustakaan dilakukan untuk mendukung proyek penataan menyeluruh kawasan tersebut. Meski bangunan perpustakaan tidak lagi beroperasi, Pemprov Jabar memastikan akses masyarakat terhadap bacaan tetap berjalan melalui layanan perpustakaan digital atau e-library.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan transformasi layanan ini dilakukan agar aktivitas literasi masyarakat tidak terhenti selama proses penataan kawasan berlangsung.

"Insyaallah, Lapangan Gasibu terintegrasi dengan halaman Gedung Sate dan masyarakat tetap mendapatkan layanan literasi," ujar Herman dalam keterangan di Bandung, seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (16/7).

Selama ini, kawasan Gasibu menjadi salah satu ruang publik favorit warga. Setiap hari, area tersebut dipenuhi aktivitas olahraga, rekreasi, hingga kegiatan komunitas. Karena itu, penataan kawasan diarahkan untuk menghadirkan ruang terbuka yang lebih luas, aman, dan nyaman bagi masyarakat.

Meski perpustakaan fisik ditiadakan, kebutuhan masyarakat terhadap bahan bacaan tetap menjadi perhatian. Pemprov Jabar menyiapkan layanan perpustakaan keliling yang akan hadir secara berkala di sekitar lingkar luar Lapangan Gasibu, sehingga warga tetap dapat mengakses buku cetak.

Bagi masyarakat yang membutuhkan ruang baca konvensional di pusat Kota Bandung, Pemprov Jabar juga mengarahkan pemanfaatan layanan Perpustakaan Umum Kota Bandung di Jalan Seram Nomor 2.

Perubahan ini menjadi bagian dari langkah pemerintah memperkuat ekosistem literasi di era digital. Layanan membaca tidak lagi bergantung pada satu bangunan, tetapi bergerak mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.

Herman menegaskan, perubahan bentuk pelayanan tersebut tidak mengurangi komitmen pemerintah dalam meningkatkan budaya membaca warga Jawa Barat.

"Semangat literasi akan tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Jawa Barat," katanya. (gin)


Editor : Inilahkoran