Merah Putih Menghidupkan Gang Karangsari
WARGA Kampung Karangsari menyambut kemerdekaan dengan gotong royong. Gang sempit disulap menjadi kampung penuh warna tanpa anggaran pemerintah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Agus Satia Negara
Merah Putih membentang panjang dari pintu masuk hingga ujung Gang Karangsari, Kampung Rancabali, RW 04, Desa Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Panjangnya hampir 500 meter, menyusuri gang sempit yang setiap sudutnya kini dipenuhi warna.
Tembok rumah, pagar, tiang lampu hingga saluran drainase tak luput dari sapuan cat. Ada lukisan bertema nasionalisme, identitas Sunda, kecintaan terhadap Persib Bandung, hingga wajah sejumlah tokoh bangsa dan budaya Jawa Barat.
Di pintu masuk, gapura dari anyaman bambu menyambut siapa saja yang datang. Patung Semar dan Cepot menjadi penghias, seolah ikut menjaga semarak kampung yang setiap tahun berdandan menjelang peringatan kemerdekaan.
Namun, ada satu hal yang membuat wajah baru Kampung Karangsari terasa berbeda. Semua itu lahir dari tangan warga sendiri.
Tak ada anggaran pemerintah yang mengalir untuk mengecat gang, membuat gapura, maupun memperbarui lukisan. Warga patungan, mengumpulkan tenaga, lalu bekerja bersama menghidupkan lingkungan tempat mereka tinggal.
Tradisi tersebut sudah berlangsung sejak 2019. Perlahan, gang yang dulu identik dengan kawasan padat, sempit dan terkesan kumuh berubah menjadi ruang yang lebih hidup dan berwarna. Setiap sudut pun seperti memiliki cerita.
Tokoh pemuda setempat, Lutfi Pradana, mengatakan warga sengaja menghadirkan beragam gambar agar kampung tidak sekadar meriah saat Agustus tiba.
Wajah Ir Soekarno, Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hingga tokoh budaya Jawa Barat menghiasi dinding-dinding kampung.
“Seluruhnya murni swadaya masyarakat. Apresiasi juga kepada Pak RW04, semangatnya menular kepada kami pemuda," kata Lutfi, Kamis (13/8).
Bagi Lutfi, apa yang dilakukan warga bukan semata-mata menghias kampung untuk menyambut ulang tahun kemerdekaan. Ada pesan tentang kemandirian yang ingin mereka tunjukkan.
Tanpa menunggu bantuan pemerintah, warga membuktikan, perubahan lingkungan bisa dimulai dari hal sederhana: kemauan untuk bergerak bersama.
Meski begitu, Lutfi berharap perhatian pemerintah tetap hadir untuk memberi ruang lebih luas bagi kreativitas warga.
“Kami berharap pemerintah hadir bukan hanya saat sudah viral. Berikan perhatian lebih minimal dukungan agar ide kreatif warga semakin berkembang," ucapnya.
Ketua RW 04 Yudi Hendrawan menuturkan, gagasan mempercantik kampung sebenarnya berangkat dari keinginan sederhana. Warga ingin mengubah wajah gang yang selama ini dikenal padat dan sempit menjadi tempat tinggal yang lebih nyaman.
Setiap tahun mereka bergerak dengan kemampuan sendiri. Tahun ini, sekitar 30 kilogram cat dihabiskan dengan biaya lebih dari Rp2 juta. Uang tersebut berasal dari iuran warga dan sumbangan sukarela.
Persiapan tahun ini memang tak sepanjang sebelumnya. Bukan karena semangat warga menyusut, melainkan karena dana yang tersedia terbatas.
“Dulu kami mulai dua bulan lebih awal, kali ini baru mendekati Agustus bergerak hanya memperbarui bagian yang pudar dan menambah lukisan baru. Walaupun demikian, antusiasme warga tak pernah surut,” jelasnya.
Semangat itu terlihat dari gang yang kini tak lagi muram. Bendera berkibar, warna memenuhi dinding, sementara lukisan menjadi penanda bahwa kampung kecil pun bisa punya cara sendiri untuk merayakan kemerdekaan.
Karangsari mungkin belum menjadi destinasi wisata. Tetapi bagi warganya, kampung ini sudah lebih dari sekadar deretan rumah dan gang sempit.
Ada gotong royong yang dirawat, kreativitas yang tumbuh, dan rasa memiliki yang setiap tahun kembali dipoles bersama.
“Ke depan, kami bermimpi Kampung Karangsari bisa tumbuh menjadi kampung tematik yang dikenal luas, sekaligus menjadi sumber kebanggaan warga sendiri, terlepas dari menjadi destinasi wisata atau tidak," tegasnya. (gin)
Editor : Inilahkoran


