Lomba Permainan Tradisional : Gawai Pergi Tradisi Kembali

LAYAR gawai sejenak ditinggalkan. Ratusan pelajar Bogor kembali berlari, tertawa, dan bermain lewat olahraga tradisional.

Lomba Permainan Tradisional : Gawai Pergi Tradisi Kembali
OLAHRAGA TRADISIONAL: Para pelajar SD melakukan permainan tradisional lewat Invitasi Olahraga Tradisional di Lapangan Luar GOR Pajajaran, Kecamatan Tanah Sareal, Rabu (16/9). Kegiatan tahun ini diikuti sekitar 522 pelajar dari 30 sekolah dasar. Para peserta mengikuti sejumlah permainan tradisional seperti dagongan, terompah panjang, egrang, hadang serta sumpitan.

Oleh : Rizki Mauludi

Lapangan luar GOR Pajajaran kembali ramai oleh suara anak-anak. Bukan bunyi notifikasi dari layar ponsel, melainkan teriakan, tawa, dan riuh langkah yang berkejaran dalam permainan tradisional.

Ratusan pelajar sekolah dasar berkumpul untuk bermain bersama. Ada yang menarik tambang dalam permainan dagongan, berjalan serempak dengan terompah panjang, menjaga keseimbangan di atas egrang, beradu strategi dalam hadang, hingga mencoba ketangkasan melalui sumpitan.

Suasana itu hadir dalam Invitasi Olahraga Tradisional tingkat SD se-Kota Bogor yang digelar Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bogor di Lapangan Luar GOR Pajajaran, Kecamatan Tanah Sareal, Rabu (16/9).

Sekitar 522 pelajar dari 30 sekolah dasar ambil bagian. Mereka mengikuti lima jenis permainan tradisional, yakni dagongan, terompah panjang, egrang, hadang, dan sumpitan.

Bagi Dispora Kota Bogor, kegiatan tersebut bukan sekadar mencari siapa yang menjadi juara. Ada misi yang lebih sederhana sekaligus penting: mengajak anak-anak kembali bergerak dan berinteraksi tanpa perantara layar.

Kepala Dispora Kota Bogor Anas S. Rasmana mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah pola aktivitas anak. Karena itu, olahraga tradisional coba dihadirkan sebagai alternatif yang menyenangkan agar anak tidak menghabiskan terlalu banyak waktu dengan gadget.

“Jadi ini merupakan event yang saya buat untuk tahun ini, guna mengarahkan anak-anak agar tidak terlalu bermain dengan gadget,” ungkap Anas.

Permainan tradisional menawarkan sesuatu yang tidak selalu ditemukan dari layar. Anak-anak harus berbicara dengan teman, bekerja sama, mengikuti aturan, bergerak dan berhadapan langsung dengan lingkungan sekitarnya. Nilai itulah yang ingin kembali diperkenalkan.

Anas mengatakan olahraga tradisional sekaligus menjadi cara untuk mengenalkan kembali permainan yang pernah dekat dengan kehidupan anak-anak pada masa lalu.

“Kami coba dengan event-event. Sekaligus saya ingin melestarikan olahraga tradisional. Ada hadang, sumpit dan seterusnya. Tadi saya mainkan juga pakai bambu, zaman kami pakai bambu,” katanya.

Bagi anak-anak hari ini, permainan seperti egrang, hadang ataupun sumpitan mungkin tidak lagi menjadi bagian dari keseharian. Namun, ketika permainan itu dibawa ke tengah lapangan, mereka menemukan pengalaman baru: bermain bersama, tertawa bersama, bahkan belajar kalah dan menang bersama.

Anas menyebut ada dua sasaran yang ingin dicapai. Selain mengenalkan kembali permainan tradisional, kegiatan tersebut diharapkan membuat anak lebih aktif secara fisik. “Target kedua, anak-anak jadi sehat,” ujarnya. (gin)


Editor : Inilahkoran