MBG Jalan Lagi, Harga Mulai Tinggi: Waspadai Anomali

MUNCUL sebuah anomali di balik kembali berjalannya program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Harga-gara pangan di Jawa Barat mulai merangkak.

MBG Jalan Lagi, Harga Mulai Tinggi: Waspadai Anomali
NAIK:Harga telur dan ayam mulai mengalami penaikan lantaran eningkatnya permintaan untuk kebutuhan pasokan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut kembali bergulir seiring berakhirnya masa libur sekolah.

Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jabar mencatat, harga daging ayam ras dan telur ayam ras mengalami kenaikan akibat meningkatnya kebutuhan pasokan untuk program MBG.

Kepala DKPP Jabar, Linda Al Amin mengatakan, kenaikan harga terjadi karena permintaan bahan baku dari dapur-dapur penyedia MBG meningkat secara signifikan untuk memenuhi kebutuhan menu harian siswa.

“Di Jawa Barat, harga daging ayam ras mengalami kenaikan signifikan sebesar 9,65 persen menjadi rata-rata Rp36.350 per kilogram, sementara harga telur ayam ras merangkak naik sekitar 1,62 persen menjadi rata-rata Rp25.050 per kilogram setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali diaktifkan bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru sekolah,” kata Linda, Minggu (19/7).

Menurutnya, pemulihan harga kedua komoditas tersebut didorong oleh lonjakan kebutuhan pasokan dari jaringan dapur MBG yang tersebar di berbagai daerah.

“Pemulihan harga ini dipicu oleh lonjakan permintaan pasokan bahan baku secara masif dari dapur-dapur produksi MBG untuk menyuplai menu harian anak sekolah,” ujarnya.

Meski demikian, Linda menegaskan kenaikan harga saat ini masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan.

Pemprov Jabar terus memantau perkembangan pasokan dan distribusi, agar tidak terjadi gejolak harga yang berlebihan di tingkat konsumen.

Selain ayam dan telur, DKPP juga memprediksi sejumlah komoditas lain berpotensi mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu ke depan.

Komoditas yang paling rentan terdampak adalah kelompok hortikultura, yang menjadi pelengkap menu MBG.

“Komoditas yang diprediksi akan naik dengan aktifnya program MBG diperkirakan adalah komoditas hortikultura yaitu cabai rawit, cabai besar, bawang merah, dan bawang putih,” ungkap Linda.

Potensi kenaikan harga tersebut dipicu meningkatnya kebutuhan bahan pangan segar untuk mendukung penyediaan menu bergizi di sekolah. Sebab itu, DKPP Jabar terus melakukan pemantauan terhadap ketersediaan stok dan perkembangan harga di tingkat produsen maupun pasar tradisional.

Di sisi lain, Dinamika global masih berdampak terhadap harga plastik untuk kemasan di Jabar terutama untuk sejumlah komoditas seperti beras premium dan minyak goreng.

Lin0da mengatakan, harga beras premium dan minyak goreng premium saat ini memang cenderung stabil. Namun, stabilitas tersebut belum diikuti penurunan harga ke tingkat yang dianggap normal.

“Untuk komoditas yang menggunakan kemasan plastik seperti beras premium dan minyak goreng premium, harganya saat ini terpantau stabil, namun stabil di level yang tinggi atau belum kembali ke harga normal,” ujar Linda.

Menurut dia, pemerintah terus berupaya menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai program stabilisasi harga. Langkah tersebut dilakukan, agar harga komoditas kemasan tidak semakin melonjak di pasaran.

“Antaranya mengoptimalkan penyaluran beras murah kualitas medium, melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kemasan 5 kilogram milik Bulog di pasar-pasar ritel Jawa Barat, serta mengoptimalkan penyaluran Minyakita,” ujarnya.

Selain beras dan minyak goreng, perhatian pemerintah juga tertuju pada komoditas kedelai yang sebelumnya sempat mengalami gangguan pasokan akibat hambatan impor dan pengiriman internasional. Kini kata dia, kondisi pasokan kedelai disebut telah membaik meski harga masih bergerak fluktuatif.

“Untuk komoditas kedelai impor, ketersediaan pasokan saat ini sudah aman dan melimpah, namun harganya masih fluktuatif di atas batas normal. Krisis pasokan akibat kelangkaan pengapalan internasional kini sudah teratasi,” ungkap Linda. (bsf)


Editor : Inilahkoran