Mencari Akhir Perjalanan Ribuan Ton Sampah
BANDUNG perlahan belajar mengolah sampahnya sendiri. Meski begitu, sebagian besar masih berakhir di TPA Sarimukti.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yogo Triastopo
Tak ada hari tanpa sampah di Kota Bandung. Sejak matahari terbit, kantong-kantong sampah kembali memenuhi sudut permukiman, pasar, hingga kawasan perdagangan.
Sebagian berhasil diolah di dalam kota, tetapi sebagian besar masih menempuh perjalanan panjang menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.
Hingga kini, TPA yang berada di Kabupaten Bandung Barat itu masih menjadi tumpuan utama Kota Bandung dalam mengelola sampah.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan, sekitar 70 persen sampah Kota Bandung masih bergantung pada TPA Sarimukti. Meski demikian, kapasitas pengolahan sampah di dalam kota mulai menunjukkan perkembangan.
"Sampai sekarang kita masih sangat mengandalkan TPA Sarimukti, sekitar 70 persen. Sementara pengolahan sampah sudah meningkat menjadi 30 persen," kata Farhan, Rabu (29/7).
Angka itu menjadi pengingat, pekerjaan rumah pengelolaan sampah masih jauh dari selesai. Pemerintah Kota Bandung pun terus mencari berbagai cara agar semakin sedikit sampah yang harus berakhir di Sarimukti.
Salah satu upaya yang terus didorong adalah pengolahan sampah sejak dari sumbernya. Masyarakat diajak memilah, mengurangi, sekaligus memanfaatkan kembali sampah sebelum dibuang.
Di tengah upaya tersebut, Program Kang Pisman masih menjadi andalan. Gerakan Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan Sampah itu terus dikembangkan agar semakin banyak sampah organik maupun anorganik yang dapat diolah di lingkungan masing-masing.
"Alhamdulillah, warga Kota Bandung juga mendapat apresiasi dari pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat khususnya untuk program pengolahan sampah organik atau yang kita kenal sebagai Kang Pisman," ujarnya.
Persoalan sampah Bandung bahkan menarik perhatian pemerintah pusat. Pekan lalu, Menteri Koordinator Bidang Pangan bersama Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) datang langsung ke Kota Bandung untuk melihat pengembangan teknologi pengolahan sampah.
Menurut Farhan, kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya mencari solusi yang lebih efektif melalui pemanfaatan teknologi tepat guna.
Harapan pemerintah sederhana, tetapi tidak mudah diwujudkan: semakin banyak sampah yang selesai diolah di dalam kota, semakin kecil pula ketergantungan terhadap TPA Sarimukti.
Karena itu, pengelolaan sampah tidak lagi hanya bertumpu pada pembangunan fasilitas. Perubahan perilaku masyarakat, peningkatan kapasitas pengolahan, dan pemanfaatan teknologi harus berjalan beriringan agar persoalan sampah dapat diselesaikan secara bertahap dan berkelanjutan.
"Saat ini, berupaya menjaga keseimbangan antara pengurangan sampah dari masyarakat, peningkatan fasilitas pengolahan dan penerapan teknologi agar persoalan sampah dapat ditangani secara berkelanjutan," tegasnya. (gin)
Editor : Inilahkoran

