Mengembalikan Fungsi Hutan Kota: Tetap Teduh Jangan Riuh
LEUWEUNG Batutulis tengah dikembalikan pada gagasan awal. Bukan taman penuh kerumunan, melainkan hutan kota yang memberi ruang untuk bernapas.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Rizki Mauludi
Ada sesuatu yang mengganjal bagi Wali Kota Bogor Dedie A Rachim ketika melihat langsung kawasan Leuweung Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan. Ruang yang sejak awal dibayangkan sebagai hutan kota itu justru mulai memperlihatkan wajah yang lebih dekat dengan taman kota.
Jalur jogging track yang terputus, fasilitas publik yang cukup dominan, hingga potensi berkumpulnya warga membuat Dedie merasa konsep awal kawasan tersebut perlu dikembalikan.
Bukan semata soal bentuk bangunan atau fasilitas yang tersedia. Bagi Dedie, persoalannya adalah bagaimana ruang itu kelak digunakan dan seberapa besar beban yang mampu ditanggung lingkungan sekitarnya.
“Kalau seperti taman kota ini, dikhawatirkan dapat memicu kerumunan dan membebani kawasan sekitar. Saya pikir harus ada semacam penyesuaian. Saya sudah lihat di lapangan, masih kurang tercermin yang disebut oleh Pak Gubernur sebagai Leuweung Batutulis,” tutur Dedie, dikutip Selasa (1/9).
Proyek Leuweung Batutulis sendiri dikerjakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Setelah melihat kondisi lapangan, Dedie meminta adanya penyesuaian terhadap rancangan yang sedang berjalan.
Menurutnya, fasilitas publik tidak perlu mendominasi kawasan. Justru ruang hijau dan pepohonan rindang harus mendapatkan porsi lebih besar agar fungsi hutan kota benar-benar terasa. “Saya menyarankan sebaiknya fasilitas untuk publiknya dikurangi, lebih banyak untuk area penghijauan,” ujarnya.
Kekhawatiran itu muncul karena kawasan tersebut sudah mulai menarik perhatian warga meski belum resmi dibuka. Pada akhir pekan lalu, konsentrasi masyarakat bahkan mulai terlihat di sekitar lokasi.
Bagi Dedie, kondisi tersebut menjadi gambaran awal tentang apa yang mungkin terjadi apabila fasilitas publik diperbanyak dan kawasan itu kemudian menjadi tujuan berkumpul dalam jumlah besar.
“Kalau nanti dibikin area untuk orang banyak, nanti malah jadi beban di sini. Padahal pengennya tidak jadi beban kerumunan,” katanya.
Karena itu, dia menilai kawasan tersebut lebih baik tetap menjadi ruang hijau yang tenang. Jika ada kebutuhan menghadirkan titik untuk menikmati pemandangan Gunung Salak, misalnya, tidak perlu terlalu banyak fasilitas.
“Kalaupun memang mau mencari spot untuk melihat pemandangan Gunung Salak, itu cukup satu spot saja,” ujarnya.
Persoalan lain yang ikut diperhitungkan adalah kondisi kawasan di bawah Leuweung Batutulis. Terdapat jalur underpass yang membuat daya dukung struktur dan lingkungan perlu menjadi bagian dari perencanaan.
Aktivitas publik yang terlalu padat di atasnya dikhawatirkan justru melahirkan persoalan baru. Selain itu, perubahan bekas jalan menjadi hutan kota juga membutuhkan perencanaan terhadap arus kendaraan. Kantong parkir perlu dipikirkan sejak awal agar kendaraan pengunjung tidak meluber ke badan jalan dan memicu kemacetan.
Bagi Dedie, nama Leuweung Batutulis bukan sekadar nama sebuah proyek. Ada gagasan yang melekat di dalamnya: hutan kota yang hijau, asri, dan tidak kehilangan karakter alaminya.
Karena itu, pembangunan tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak fasilitas yang bisa ditempatkan di dalam kawasan. Lebih penting adalah apakah ruang tersebut mampu menghadirkan kembali pepohonan dan ruang hijau yang menjadi alasan kawasan itu disebut leuweung.
Masukan tersebut telah disampaikan Dedie kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan konsultan yang mengerjakan proyek tersebut. Dia berharap rancangan yang ada dapat diselaraskan kembali dengan kondisi ideal kawasan. (gin)
Editor : Inilahkoran

