Mengetuk Pintu Demi Harapan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Tuban - Pintu rumah itu didatangi berulang kali. Sekali, dua kali, hingga sepuluh kali. Bukan untuk menawarkan bantuan atau meminta sumbangan, melainkan mengajak seorang anak kembali ke sekolah setelah lama meninggalkan bangku pendidikan.
Tak semua ajakan langsung diterima. Ada orang tua yang masih ragu, ada pula anak yang sudah terlanjur merasa sekolah bukan lagi bagian dari hidupnya. Namun, para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) tak menyerah. Mereka terus datang, meyakinkan bahwa masih ada masa depan yang bisa diperjuangkan.
Usaha itu kini berbuah. Sejumlah anak yang sempat putus sekolah akhirnya bersedia menjadi siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Permanen Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan, proses merekrut peserta didik untuk sekolah tersebut tidaklah mudah. Para pendamping PKH harus melakukan pendekatan berkali-kali kepada keluarga agar anak-anak diizinkan kembali mengenyam pendidikan.
“Ada pendamping PKH yang mendekati keluarga itu sampai 10 kali, baru mereka mengizinkan putra atau putrinya dikirim untuk sekolah di sini. Jadi, ada yang hunting untuk peserta didik,” kata Khofifah saat meninjau SRT Permanen Kabupaten Tuban, seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (29/7).
Sebagian besar calon siswa merupakan anak-anak yang telah lama terputus dari pendidikan formal. Bahkan, ada di antara mereka yang sudah tidak lagi mengetahui seharusnya berada di jenjang kelas berapa.
“Kemudian, ada anak-anak yang saya tanya, ‘kelas berapa?’, belum tahu. Nah, itu artinya mereka kemungkinan besar putus sekolah,” ujarnya.
Menurut Khofifah, ada anak yang berhenti sekolah sejak kelas dua, tiga, hingga empat sekolah dasar. Kini mereka diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan sesuai kemampuan yang dimiliki.
“Karena ada yang mungkin drop out kelas 2, drop out kelas 3, drop out kelas 4. Nanti kalau masuk di sini kelas berapa? ‘Kelas 4 SD’. Berarti dia kan drop out kelas 4,” katanya. (gin)
Editor : Inilahkoran

