Menyalakan Gerak di Tengah Keterbatasan
KETERBATASAN penglihatan tak seharusnya membatasi langkah. Dari keresahan itu, Alexander menggagas teknologi yang membuat olahraga lebih inklusif
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Lapangan olahraga semestinya menjadi ruang untuk bergerak. Namun bagi sebagian siswa tunanetra, pelajaran pendidikan jasmani justru kerap membuat mereka hanya duduk di pinggir lapangan, menyaksikan teman-temannya berlari dan bermain.
Pemandangan itulah yang mengusik Alexander Dwiky Hermawan. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Khusus, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) itu kemudian mencoba mencari jalan agar keterbatasan penglihatan tidak menjadi alasan bagi siswa tunanetra untuk kehilangan kesempatan bergerak.
Dari keresahan tersebut lahirlah Movevision. Teknologi asistif multi-platform itu dirancang untuk membantu siswa tunanetra mengikuti pendidikan jasmani adaptif secara lebih aktif dan mandiri. Sistemnya memanfaatkan petunjuk gerak yang terhubung dengan aplikasi mobile, smartwatch, dan earphone.
“Gagasan kreatif ini bertajuk Movevision, sebuah inovasi yang dirancang khusus untuk membantu siswa disabilitas netra agar dapat aktif berolahraga,” kata Alex di Banjarmasin, seperti dikutip dari ANTARA, Senin (10/8).
Selama ini, menurut Alex, keterbatasan akses terhadap pembelajaran jasmani membuat siswa tunanetra belum memiliki ruang yang cukup untuk berpartisipasi secara aktif. Mereka ada di lapangan, tetapi tidak selalu bisa ikut bergerak.
Movevision mencoba mengubah keadaan tersebut. Petunjuk gerak yang diberikan melalui perangkat yang saling terhubung diharapkan dapat membantu siswa mengenali instruksi dan melakukan aktivitas olahraga tanpa harus selalu bergantung pada bantuan orang lain.
Bagi Alex, teknologi bukan sekadar alat untuk mempermudah aktivitas. Teknologi juga dapat menjadi jembatan menuju kesempatan yang lebih setara.
Melalui Movevision, siswa tunanetra diharapkan dapat mengambil bagian dalam pelajaran pendidikan jasmani, bukan lagi sekadar menjadi penonton dari pinggir lapangan.
Gagasan tersebut sekaligus membawa pesan yang lebih luas. Akses terhadap olahraga bukan hanya tentang kesehatan tubuh, tetapi juga tentang hak setiap anak untuk mendapatkan pengalaman belajar yang setara. (gin)
Editor : Inilahkoran


