Sains Menyapa Tradisi Terjaga

ADA sains yang lahir dari buku, ada pula yang tumbuh dari pengalaman. Nusantara memiliki keduanya, dan keduanya layak dipertemukan.

Sains Menyapa Tradisi Terjaga
GELAR WICARA: Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Ahmad Najib Burhani dalam kegiatan Gelar Wicara bertajuk “Indonesia dalam Sejarah Sains, Sains dalam Sejarah Indonesia” di Museum Multatuli, Lebak, Banten.

Sains tidak selalu lahir di laboratorium. Jauh sebelum istilah itu akrab dengan kampus dan ruang penelitian, masyarakat Nusantara telah mengenal pengetahuan melalui pengalaman sehari-hari.

Pelaut membaca arah angin dan bintang. Petani memahami musim. Para peramu mengenali tumbuhan untuk pengobatan. Masyarakat pesisir mengembangkan teknologi maritim, sementara berbagai komunitas menjaga lingkungan berdasarkan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Jejak itu menunjukkan bahwa sains bukan sesuatu yang asing bagi Indonesia. Ia pernah tumbuh dari pengalaman, kebutuhan, dan interaksi manusia dengan alam.

Kini, pengetahuan tersebut kembali dilihat sebagai bagian penting dalam membangun budaya sains di tengah masyarakat.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong penguatan budaya sains sekaligus implementasinya dalam kehidupan masyarakat. Langkah tersebut diharapkan dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga sejarah, budaya, dan tradisi lokal di berbagai daerah.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Ahmad Najib Burhani mengatakan perjalanan panjang masyarakat Nusantara memperlihatkan bahwa tradisi pengetahuan telah berkembang dalam berbagai bidang.

“Tradisi pengetahuan telah berkembang melalui pengalaman empiris di bidang pelayaran, pertanian, pengobatan, astronomi, teknologi maritim, hingga pengelolaan lingkungan,” katanya, seperti dikutip dari ANTARA, Senin (10/8).

Bagi Najib, sejarah bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Di dalamnya tersimpan pengetahuan yang dapat dibaca kembali untuk membangun kepercayaan diri bangsa sekaligus menemukan kemungkinan baru bagi masa depan.

Pengetahuan yang telah tumbuh di masyarakat perlu dirawat, diteliti, dan dipertemukan dengan perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer.

“Sains tidak boleh hanya tumbuh di ruang laboratorium atau kampus, tetapi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Najib.

Persoalannya, mendekatkan sains kepada masyarakat bukan perkara sederhana. Survei Nasional Persepsi dan Minat terhadap Saintek 2025 yang dilakukan Kemdiktisaintek bersama LSI terhadap 1.203 responden memperlihatkan sebuah paradoks.

Sebanyak 87,9 persen masyarakat menyatakan percaya terhadap sains. Bahkan, 81,1 persen percaya kepada ilmuwan dan peneliti. Namun, kepercayaan tersebut belum otomatis membuat masyarakat dekat dengan aktivitas ilmiah.

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Yudi Darma mengatakan 88,2 persen responden tidak terlibat dalam aktivitas sains dan teknologi. Sebanyak 74,1 persen mengaku tidak pernah berdiskusi mengenai saintek.

Lebih jauh, 87,3 persen responden jarang atau bahkan tidak pernah membaca jurnal maupun buku ilmiah dalam setahun terakhir.

Angka-angka itu memperlihatkan jarak yang masih terbentang. Masyarakat percaya pada sains, tetapi belum banyak ikut berbicara tentangnya. (gin)


Editor : Inilahkoran