Menyambangi Para Lansia Perajin Keset di Kampung Buluh Pacet Kabupaten Bandung

Meski usia senja dan memiliki keterbatasan fisik, namun puluhan lansia warga Kampung Buluh RW 7 Desa Nagrak Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung tetap produktif menjadi perajin lap keset anyaman kain. 

Menyambangi Para Lansia Perajin Keset di Kampung Buluh Pacet Kabupaten Bandung
Sejak beberapa tahun ini puluhan lansia warga Kampung buluh yang rata-rata lansia serta memiliki keterbatasan fisik, mulai memiliki harapan hidup baru. Di tengah keterbatasan fisik dan tenaga, mereka tetap semangat mengais rejeki, yakni dengan  menjadi perajin keset anyaman berbahan kain. (rd dani r nugraha)

INILAHKORAN, Soreang - Meski usia senja dan memiliki keterbatasan fisik, namun puluhan lansia warga Kampung Buluh RW 7 Desa Nagrak Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung tetap produktif menjadi perajin lap keset anyaman kain. 

Sejak beberapa tahun ini puluhan lansia warga Kampung buluh yang rata-rata lansia serta memiliki keterbatasan fisik, mulai memiliki harapan hidup baru. Di tengah keterbatasan fisik dan tenaga, mereka tetap semangat mengais rejeki, yakni dengan  menjadi perajin keset anyaman berbahan kain. 

Tangan dan kaki mereka yang ringkih itu setiap hari mengayun alat tenun sederhana. Hasilnya, lembar demi lembar lap keset anyaman kain dengan beragam motif indah menjadi bagian perlengkapan disetiap rumah kita.

Usaha pembuatan keset anyaman kain ini dipelopori Didin (50) salah seorang pegiat sosial di Desa Nagrak. Meski dalam keadaan struk dan tangan kanannya lumpuh, ia terus berpikir keras agat tetap bisa produktif mencari nafkah untuk anak istrinya. Selain memikirkan diri sendiri, ia juga teringat bahwa banyak warga Kampung Buluh yang telah lanjut usia, mengalami kecatatan akibat kecelakaan kerja, disabilitas dan juga janda-janda tua yang hidup dalam kemiskinan. Bahkan banyak juga keluarga yang menjadi korban bank emok (rentenir).

"Kurang lebih dua tahun saya terbaring diatas kasur setruk dan badan sempat lumpuh total. Alhamdulilah sekarang beranjak membaik. Selama berbaring itu saya berpikir bagaimana supaya bisa bangkit mencari nafkah, karena masih punya tanggungan anak istri dan orang tua. Agar bisa tetap bertahan hidup, maka dari itulah saya mulai tumbuh semangat hidup dan memulai usaha produksi Kesed ini," kata Didin di Kampung Buluh, Minggu 27 Juli 2025.

Dengan bermodalkan sebuah alat tenun sederhana yang dibelinya seharga Rp. 1,5 juta Didin memulai pembuatan keset anyaman kain. Meski harus tertatih-tatih dengan tenaga yang seadanya, lambat laun perjuangan Didin ini mulai menampakan hasil, meski tak besar ia bisa kembali menafkahi keluarganya.

 Menariknya, tekad dan kerja keras Didin ini juga menginspirasi warga Kampung Buluh lainnya, terutama yang telah lansia serta memiliki keterbatasan fisik seperti Didin. Mereka mengikuti jejak Didin menjadi perajin keset anyaman kain. Alhasil, para lansia, disabilitas dan para janda tua yang semula hidup hanya dengan mengandalkan belas kasihan, kini berubah menjadi produktif dan memiliki penghasilan. Meski tak besar, namun penghasilan mereka ini mampu untuk bertahan hidup serta menafkahi keluarga mereka. Hingga saat ini di Kampung Buluh dari jumlah warga sebanyak 250 Kepala Keluarga (KK) terdapat sekitar 20 KK menjadi perajin keset anyaman kain, yang para pekerjanya adalah para lansia.

Salah seorang perajin lap keset anyaman kain warga Kampung Buluh adalah Asku, pria berusia 80 tahun ini terpaksa masih harus tetap bekerja. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia juga masih harus membiayai anak bungsunya yang masih sekolah di salah satu SMA. Dengan mengikuti jejak Didin, ia bersyukur di tengah keterbatasan penglihatan serta tenaga yang terbatas karena usia, namun masih bisa mempunyai penghasilan.

"Alhamdulilah saya yang sudah tua dan sakit-sakitan ini masih bisa bekerja. Yah walaupun hasilnya tidak besar tapi bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Ardia (66) warga Kampung Buluh lainnya yang merupakan mantan karyawan pabrik mengatakan, sekarang ia fokus membuat anyaman keset di rumahnya. Kata dia, pekerjaan ini memang memerlukan keterampilan tangan dan kaki untuk menggerakan alat tenun. Dalam sehari, rata-rata ia menghasilkan sekitar 2 kodi keset anyaman kain atau sama dengan Rp50 ribu. 

"Lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena selepas bekerja di pabrik saya nganggur enggak ada pekerjaan, mau melamar lagi kerja di pabrik sudah tidak bisa karena sudah tua dan sudah enggak punya tenaga yang kuat. Dengan menjadi perajin keset, Alhamdulilah saya masih bisa punya penghasilan," katanya.

Para pelaku UMKM perajin keset anyaman kain di Kampung Buluh ini berjuang sendiri untuk mencapai kemandirian. Namun, ditengah segala keterbatasannya ini mereka memerlukan uluran tangan pemerintah, terutama untuk bantuan permodalan usaha. Karena seringkali modal usaha yang ada habis untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga, mereka terkadang harus meminjam bahan baku dari perajin lainnya agar aktivitas produksi tak terhenti.


Editor : Doni Ramdhani