Merawat dengan Hati, Relawan Bumi Kaheman Dedikasikan Hidup untuk Pemulihan ODGJ
Di tengah masih kuatnya stigma terhadap ODGJ, para relawan di Panti Rehabilitasi Sosial Bumi Kaheman Cangkuang, Kab Bandung memilih menempuh jalan kemanusiaan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Di tengah masih kuatnya stigma terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), para relawan di Panti Rehabilitasi Sosial Bumi Kaheman, Perumahan Banda Asri, Desa Bandasari, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, memilih menempuh jalan kemanusiaan.
Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, mereka mendampingi para penyandang disabilitas mental untuk kembali menjalani kehidupan yang lebih baik.
Panti rehabilitasi sosial yang berada di bawah Yayasan Korsa itu berdiri sejak 2010 dan melengkapi legalitasnya pada 2013. Berawal dari merawat satu pasien dengan fasilitas sederhana, kini Bumi Kaheman berkembang menjadi salah satu lembaga rehabilitasi sosial yang dipercaya menangani puluhan pasien ODGJ.
Ketua Yayasan Korsa Panti Rehabilitasi Sosial Bumi Kaheman Fadli L Tobing mengatakan, lembaganya fokus memberikan pelayanan kepada pasien ODGJ dan penyandang disabilitas mental. Selain itu, panti tersebut juga menangani pasien dengan dual diagnosis akibat penyalahgunaan narkotika, obat-obatan, dan zat adiktif lainnya.
“Panti rehabilitasi sosial ini didirikan pada 2010, sementara legalitasnya kami lengkapi pada 2013. Kami fokus melayani pasien ODGJ dan disabilitas mental. Selain itu, kami juga ditunjuk oleh Kementerian Sosial sebagai Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL),” kata Fadli kepada INILAHKORAN.ID di Cangkuang, Jumat (19/6/2026).
Saat ini, Bumi Kaheman memiliki kapasitas perawatan sekitar 40 hingga 50 pasien. Para pasien ditempatkan di sejumlah ruangan sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing. Dalam proses rehabilitasi, pasien yang menunjukkan perkembangan positif biasanya mulai diberikan aktivitas ringan sebagai bagian dari terapi sosial.
“Pasien yang sudah menjalani perawatan sekitar dua bulan dan menunjukkan kemajuan biasanya kami beri kesempatan beraktivitas terbatas, seperti membersihkan halaman atau pergi ke warung di sekitar panti,” ujarnya.
Menurut Fadli, durasi pemulihan setiap pasien berbeda-beda. Ada yang pulih dalam hitungan bulan dan bisa kembali ke keluarga, namun ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Faktor keluarga dan lingkungan menjadi salah satu penentu keberhasilan rehabilitasi.
“Pasien yang sudah membaik perlu mendapatkan dukungan keluarga saat kembali ke rumah. Jangan sampai setelah pulang tidak ada yang memperhatikan atau merawat. Kondisi seperti itu bisa menjadi pemicu gangguan kejiwaan muncul kembali,” katanya.
Tak sedikit pula pasien yang memilih tetap tinggal di panti meski kondisi kejiwaannya telah pulih. Mereka kemudian dilibatkan dalam berbagai aktivitas pengelolaan panti melalui program On Job Training (OJT).
“Ada pasien yang sudah lebih dari 12 tahun tinggal di sini. Kondisinya sudah pulih, tetapi keluarganya sudah tidak ada. Akhirnya dia menjadi bagian dari keluarga besar kami dan ikut membantu aktivitas panti,” kata Fadli.
Mengurus pasien ODGJ bukan pekerjaan mudah. Berbagai risiko kerap dihadapi para relawan, mulai dari perilaku pasien yang sulit diprediksi hingga potensi tindakan agresif. Namun semua itu dijalani dengan semangat pengabdian.
“Suka dukanya banyak. Setiap hari kami belajar dan menemukan hal-hal baru. Kadang ada pasien yang memukul atau bertindak di luar dugaan. Tapi kami menjalani semuanya dengan ikhlas karena ini pekerjaan kemanusiaan. Kalau bukan kami yang peduli, siapa lagi yang akan mengurus mereka,” ujarnya.
Fadli mengungkapkan, faktor penyebab gangguan kejiwaan yang dialami pasien cukup beragam. Namun berdasarkan pengalamannya, persoalan asmara menjadi salah satu pemicu yang paling sering ditemui, mulai dari putus cinta hingga perceraian.
“Penyebabnya macam-macam, tetapi yang paling banyak kami temui adalah masalah asmara. Selain itu, mayoritas pasien yang dititipkan ke panti rehabilitasi adalah laki-laki,” katanya.
Dia pun mengajak masyarakat untuk menghapus stigma terhadap ODGJ. Menurutnya, dukungan keluarga dan lingkungan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan kesehatan jiwa.
“Jangan mengucilkan mereka. Berikan perhatian dan kasih sayang. Dalam dunia kesehatan jiwa, yang sering terjadi bukan sekadar kambuh, tetapi munculnya pemicu berupa stres atau tekanan mental yang tinggi. Karena itu, dukungan dari keluarga dan masyarakat sangat penting,” katanya.
Editor : Doni Ramdhani


