Miris! Atlet NPCI KBB Terancam Lumpuh Jelang Peparda VII Jabar Akibat Krisis Anggaran
Hasil klasifikasi atlet NPCI KBB jelang Peparda VII Jabar 2026 berjalan lancar, namun terancam kendala keterlambatan dana hibah Pemda. Simak selengkapnya!
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Hasil resmi klasifikasi atlet menjelang Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat tahun 2026 dinilai berjalan sesuai target regulasi dan jadwal persiapan pengurus National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Berdasarkan verifikasi Bidang Klasifikasi PB Peparda VII di Sport Jabar Arcamanik pada Juli 2026 lalu, capaian ini tergolong positif meski menyisakan tantangan akibat pengetatan aturan. Salah satunya, seorang atlet cabang olahraga bowling dinyatakan tidak lolos verifikasi, sehingga memperberat target perolehan poin kontingen KBB.
Namun, di balik capaian teknis tersebut, NPCI KBB kini menghadapai krisis finansial akibat keterlambatan pencairan anggaran hibah dari pemerintah daerah. Kondisi ini memicu efek domino yang merugikan manajemen, fasilitas latihan, hingga kesejahteraan para atlet disabilitas.
Wakil Sekretaris Umum NPCI KBB, Acep Kurnia, mengungkapkan bahwa faktor finansial menjadi penghambat paling dominan. Dampaknya dirasakan langsung pada tersendatnya uang saku atlet, pemenuhan gizi, hingga biaya sewa fasilitas latihan yang mahal.
"Sewa lintasan bowling, misalnya, mencapai Rp1,4 juta per sesi dan terpaksa dihentikan karena dana habis. Selain itu, peralatan tanding belum memenuhi standar regulasi terbaru dan insentif pelatih masih tertunggak," ujar Acep, Rabu (5/8/2026).
Acep menambahkan, minimnya dukungan pihak swasta dan panjangnya birokrasi membuat pembibitan atlet terganggu.
"Proses seleksi sebenarnya sudah objektif, namun keberlanjutannya lumpuh karena dana hibah selalu minim sehingga pembibitan atlet tidak berjalan maksimal," tegasnya.
Meski kondisi fisik dan teknik atlet tergolong matang berkat bakat serta loyalitas tinggi, tekanan ekonomi membuat kondisi mental mereka tetap rentan. Untuk menyiasatinya, manajemen mengandalkan pendekatan emosional dan konseling personal guna menjaga motivasi bertanding.
Sistem pendukung medis, logistik, dan akomodasi pun saat ini hanya mengandalkan dana swadaya yang sangat terbatas sambil menunggu anggaran daerah cair.
Untuk memutus siklus tahunan ini, NPCI KBB mengusulkan transformasi menyeluruh dalam pembinaan olahraga disabilitas.
"Kami mengusulkan kemitraan CSR berkelanjutan, sistem anggaran jamak (multi-years), pemantauan performa digital, sentra diklat terpadu, serta jaminan kesejahteraan dan karier bagi atlet berprestasi agar pembinaan tidak sekadar muncul saat ajang pesta olahraga saja," pungkas Acep.
Editor : Ahmad Sayuti


