Normalisasi Kali Cibeuteung: Lumpur Hilang Ancaman Berkurang
KALI Cibeuteung mulai ditata menghadapi ancaman banjir. Endapan lumpur dan sampah dibersihkan agar aliran air kembali lancar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Rizki Mauludi
Endapan lumpur, tumpukan sampah, hingga rimbunan vegetasi liar perlahan disingkirkan dari aliran Kali Cibeuteung.
Sungai yang menjadi bagian penting bagi warga Desa Candali, Kecamatan Rancabungur, itu kembali ditata agar mampu menampung aliran air dengan lebih baik saat hujan datang.
Pemerintah Kabupaten Bogor melakukan normalisasi Kali Cibeuteung sebagai langkah mitigasi bencana, khususnya untuk mengurangi risiko banjir akibat pendangkalan sungai dan tersumbatnya aliran air.
Kegiatan yang berlangsung Kamis (30/7) itu dilakukan atas arahan Bupati Bogor Rudy Susmanto. Normalisasi melibatkan berbagai unsur, mulai dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bogor, UPT Jalan dan Jembatan Kelas A Wilayah VIII Parung, UPT Infrastruktur Irigasi Kelas A Wilayah II Parung, TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, hingga masyarakat.
Camat Rancabungur, Dita Aprillia mengatakan, pembersihan Kali Cibeuteung menjadi langkah pencegahan agar fungsi sungai kembali optimal, terutama ketika curah hujan meningkat.
“Normalisasi ini dilakukan sebagai langkah tanggap dan pencegahan berkala agar aliran Kali Cibeuteung kembali optimal. Dengan demikian, potensi banjir akibat luapan sungai dapat diminimalkan, sekaligus melindungi permukiman warga dan lahan pertanian yang berada di sekitar daerah aliran sungai,” ujar Dita dalam keterangan persnya.
Proses normalisasi dilakukan dengan mengeruk endapan sedimentasi menggunakan alat berat ekskavator.
Sementara pembersihan sampah dan vegetasi liar di bantaran sungai dilakukan secara manual melalui semangat gotong royong masyarakat.
Hingga kini, pengerukan telah mencapai sekitar satu kilometer. Sungai dengan lebar lima hingga delapan meter itu dibersihkan hingga kedalaman sekitar satu hingga satu setengah meter.
Material yang diangkat bukan hanya lumpur, tetapi juga berbagai penghambat aliran air seperti kayu, bambu, dan sampah yang menumpuk di sejumlah titik.
“Hasil normalisasi menunjukkan aliran air kini menjadi lebih lancar dan kapasitas sungai dalam menampung debit air meningkat.
Ini menjadi langkah penting dalam mengurangi potensi banjir saat musim hujan,” kata Dita.
Namun, upaya menjaga sungai tidak berhenti pada pengerukan. Pemerintah Kecamatan Rancabungur bersama Pemerintah Desa Candali terus mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, terutama tidak membuang sampah ke sungai.
Selain itu, pemerintah daerah juga akan melakukan koordinasi lanjutan untuk pembangunan turap atau tembok penahan tanah (TPT) permanen di sejumlah titik rawan longsor. (gin)
Editor : Inilahkoran

