Pedagang di Pasar Tradisional Atas Cimahi Prediksi Bakal Ada Kenaikan Harga Daging

Para pedagang daging di sejumlah pasar tradisional di Kota Cimahi memprediksi bakal mengalami kenaikan selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2023/2024.

Pedagang di Pasar Tradisional Atas Cimahi Prediksi Bakal Ada Kenaikan Harga Daging
Para pedagang daging di sejumlah pasar tradisional di Kota Cimahi memprediksi bakal mengalami kenaikan selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2023/2024./Agus Satia Negara

INILAHKORAN, Cimahi - Para pedagang daging di sejumlah pasar tradisional di Kota Cimahi memprediksi bakal mengalami kenaikan selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2023/2024.

Meski begitu, jelang Nataru 2023/2024, para pedagang mengaku Harga Daging terpantau masih relatif stabil.

Salah seorang pedagang daging di Pasar Atas Kota Cimahi, Aep (52) mengatakan, Harga Daging ayam saat ini tetap stabil. Bahkan cenderung lebih rendah daripada sebelumnya.

"Untuk Harga Daging ayam untuk sekarang masih stabil, yakni Rp 28 ribu per kilogram dibandingkan sebelumnya yang mencapai Rp 32 ribu per kilogram," katanya kepada wartawan, Senin 18 Desember 2023.

Kendati demikian, menurut Aep, jelang Nataru 2023/2024 ini ada kemungkinan Harga Daging ayam bakal melonjak lantaran minat beli masyarakat yang meningkat. Sehingga, pasokan daging ayam mengalami penurunan.

"Kemungkinan jelang Nataru 2023/2024 daging ayam naik hingga Rp 35 ribu per kilogram," tuturnya.

Sementara itu, pedagang daging sapi di Pasar Atas Kota Cimahi, Nandang (56) memastikan hingga saat ini Harga Daging sapi pun masih stabil. Menurutnya, hal tersebut lantaran adanya kestabilan harga selama dua tahun terakhir tanpa adanya kenaikan.

"Jelang Nataru harga sapi masih stabil Rp 130 ribu per kilogram karena hampir dua tahun segitu harganya. Bahkan, sepertinya tidak akan naik karena sudah terlalu tinggi," ujarnya.

Nandang menjelaskan, Harga Daging sapi tetap stabil lantaran sebagian besar pedagang di Pasar Atas menjual daging sapi impor, sedangkan stok daging sapi lokal telah habis. Sehingga menghilangkan persaingan antara daging impor dan lokal.

"Dari bandarnya memang dagingnya impor, sehingga dari luar jadi tidak ada saingan daging lokal maka dari itu stabil harganya," ujarnya.

"Dulu kalau ada daging lokal, kalau yang impor naik bisa pindah ke lokal jadi harganya bisa turun naik. Sekarang rata-rata dagingnya import dari Australia," tambah Nandang.

Nandang menyebut, beberapa pihak tertentu kini membeli sapi lokal dengan harga yang lebih terjangkau untuk menghindari persaingan dengan pemasok daging impor.

"Dulu waktu masih ada sapi lokal itu dibeli oleh pihak-pihak tertentu supaya sapi impor tidak ada saingan. Kalau sekarang sapi lokal hampir habis jadi tidak ada saingan sehingga harga stabil," 

Nandang mengaku, dirinya memperoleh daging impor dari dua tempat penyembelihan yang berbeda. Dirinya optimistis bahwa kemungkinan besar tidak akan ada penurunan penjualan menjelang akhir tahun.

"Bandarnya ini dari Cisarua dan Bandung. Jadi ada dua penjagalan. Tidak ada kemungkinan konsumen menurun karena tidak ada saingan," imbuhnya.

Menurutnya, perbedaan antara kualitas daging sapi lokal dan sapi impor menentukan harga jualnya. Pasalnya, daging sapi lokal lebih banyak peminatnya karena lebih enak untuk dikonsumsi.

"Daging lokal lebih berkualitas karena empuk. Sedangkan yang impor sedikit keras. Itu karena beda dari pakan yang diberikan pada sapinya sendiri," tandasnya.*** (agus satia negara)


Editor : JakaPermana