Pemkot Bandung Pantau Dampak Proyek BRT
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yogo Triastopo
INILAH, Bandung - Pembangunan bus rapid transit (BRT) mulai membawa perubahan pada sejumlah ruas jalan di Kota Bandung. Kemacetan yang muncul di Jalan Jakarta membuat Pemerintah Kota Bandung mulai menghitung kembali dampak pekerjaan tersebut terhadap pergerakan kendaraan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengaku masih mempelajari kondisi di lapangan. Dia akan meninjau langsung pembangunan BRT untuk melihat sejauh mana pekerjaan tersebut memengaruhi arus lalu lintas.
“Pembangunan BRT saya akan tinjau hari ini. Saya akan keliling untuk melihat efek pembangunan BRT,” kata Farhan, Kamis (20/8).
Sebelumnya, Farhan mengaku belum melihat adanya gangguan berarti. Kondisi lalu lintas masih terlihat relatif normal hingga kemudian muncul laporan kemacetan yang diduga berkaitan dengan pembangunan BRT.
“Karena kemarin agak terlalu adem, kayaknya seperti tidak ada apa-apa pembangunan ini. Tapi begitu semalam saya dengar, ternyata menimbulkan kemacetan. Nah, saya baru akan turun,” ucapnya.
Kini, persoalan yang menjadi perhatian bukan hanya pekerjaan konstruksi yang sedang berlangsung. Dampak terhadap lalu lintas diperkirakan akan semakin terasa ketika pembangunan memasuki tahap pemasangan separator khusus jalur bus.
“Nanti saya akan lihat dulu bagaimana prosesnya. Karena nanti dampaknya akan makin lama makin bertambah, terutama dengan pembangunan pemisah atau separator. Separator khusus untuk bus. Itu kan mempersempit jalan,” ujar dia.
Separator BRT akan mengubah sejumlah ruas jalan di Bandung. Selain Jalan Jakarta, pekerjaan juga menyentuh Jalan Ahmad Yani, Asia Afrika, Sudirman, Rajawali, Otista, Muhammad Toha hingga kawasan Alun-Alun.
Jalan yang selama ini menjadi ruang bersama bagi berbagai kendaraan harus berbagi tempat dengan jalur khusus BRT. Ruang untuk bus harus disiapkan, sementara kendaraan lain tetap membutuhkan jalur untuk bergerak. Perubahan itulah yang kini sedang dihitung pemerintah kota.
“Nah, itu makanya. Makanya ini saya sedang pelajari dulu bagaimana dampaknya,” jelas Farhan.
Bagi Farhan, pembangunan transportasi publik tetap perlu berjalan. Namun, manfaat jangka panjang tersebut tidak boleh mengabaikan persoalan yang muncul selama proses pembangunan.
Kemacetan, perubahan arus, dan penyempitan jalan menjadi bagian yang harus diantisipasi sebelum pekerjaan semakin jauh.
Karena itu, komunikasi dengan pihak BRT terus dilakukan. Pemkot Bandung ingin mengetahui perkembangan pembangunan sekaligus memastikan mobilitas warga tetap menjadi perhatian.
(gin)
Editor : Inilahkoran

