Delapan Puluh Satu Tahun Menimbang Arah

JAWA Barat memasuki usia 81 tahun dengan banyak catatan. Masa lalu ditimbang, arah masa depan kembali dipertanyakan.

Delapan Puluh Satu Tahun Menimbang Arah
REKAM JEJAK: Dalam saresehan bertajuk Jawa Barat Kemarin dan yang Akan Datang, Rabu (19/8), sejumlah tokoh lintas sektor mengupas rekam jejak kepemimpinan Jabar.

Oleh : Yuliantono

Usia 81 tahun bukan sekadar angka bagi Jawa Barat. Di balik perjalanan panjang provinsi dengan penduduk terbesar di Indonesia itu, tersimpan jejak kepemimpinan, warisan budaya, sekaligus pekerjaan rumah yang terus berubah dari satu masa ke masa berikutnya.

Pertanyaan tentang ke mana Jawa Barat akan melangkah kembali mengemuka dalam saresehan bertajuk Jawa Barat Kemarin dan yang Akan Datang yang digelar Kaukus Ketokohan Jawa Barat (KKJB), Rabu (19/8).

Forum yang bertepatan dengan momentum HUT Kemerdekaan RI dan HUT ke-81 Jawa Barat itu mempertemukan sejumlah tokoh masyarakat, aktivis, serta perwakilan organisasi.

Mereka tidak sekadar mengenang masa lalu, tetapi mencoba membaca kembali jejak yang ditinggalkan para pemimpin Jawa Barat sebagai bekal menentukan arah masa depan.

Ketua KKJB Eka Santosa menyebut refleksi sejarah penting dilakukan agar pembangunan Jawa Barat tidak tercerabut dari akar budayanya.

Dia mengutip ungkapan Sunda, “Moal aya ayeuna lamun euweuh poe kamari”—tidak akan ada hari ini jika tidak ada hari kemarin.

Dari sana, pembicaraan bergerak pada satu hal: Jawa Barat membutuhkan kesinambungan nilai di tengah perubahan zaman.

Bagi Eka, filosofi Gemah Ripah Repeh Rapih seharusnya tetap menjadi pijakan. Identitas Jawa Barat, menurut dia, tidak semestinya tenggelam oleh slogan-slogan baru yang justru menjauh dari karakter masyarakatnya.

Sejarah kepemimpinan pun menjadi bagian dari perbincangan. Nama Solihin GP, Yogie Suardi Memet, Nana Nuriana hingga Ahmad Heryawan disebut sebagai bagian dari tradisi kepemimpinan Jawa Barat yang meninggalkan warisan masing-masing.

Ahmad Heryawan bahkan memimpin selama dua periode, 2008-2018. Bagi KKJB, rekam jejak para pemimpin tersebut menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki tradisi kepemimpinan yang patut diperhitungkan, termasuk dalam percaturan pemerintahan nasional.

Pengamat Politik dan Pemerintahan Universitas Jenderal Achmad Yani Arlan Siddha melihat warna berbeda dalam kepemimpinan tiga gubernur terakhir.

Ahmad Heryawan dikenal dengan pendekatan intelektual, Ridwan Kamil dengan gaya teknokrat, sedangkan Dedi Mulyadi lebih kuat membawa pendekatan budaya Sunda.

Perbedaan itu menunjukkan, setiap zaman melahirkan gaya kepemimpinannya sendiri. Namun, tantangannya tetap sama: memastikan perubahan gaya tidak memutus kesinambungan pembangunan.

(gin)


Editor : Inilahkoran