Husein Belum Cerminkan Bandung
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yogo Triastopo
INILAH, Bandung - Pesawat yang mendarat di Bandara Husein Sastranegara belum tentu langsung membawa penumpangnya pada suasana Bandung.
Bandara memang telah kembali beroperasi dan tampil lebih rapi, tetapi bagi Pemerintah Kota Bandung, ada sesuatu yang masih terasa kurang: identitas kota.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui hal tersebut setelah melakukan evaluasi terhadap kondisi Bandara Husein Sastranegara.
“Bandara sudah jalan, bandara sudah rapi. Tetapi belum terasa Kota Bandungnya,” kata Farhan, Kamis (20/8).
Karena itu, Pemkot Bandung ingin menghadirkan pengalaman yang lebih khas sejak wisatawan menjejakkan kaki di bandara. Bukan sekadar tempat datang dan pergi, Husein diharapkan menjadi pintu pertama untuk mengenalkan karakter Kota Bandung.
Konsep branding experience mulai disiapkan. Seni pertunjukan, karya visual, produk lokal, hingga ruang bagi pelaku usaha akan menjadi bagian dari wajah baru tersebut.
Salah satu gagasan yang disiapkan adalah menghadirkan elemen berbentuk pesawat di ruang tunggu. Bagian tengahnya akan dilengkapi panggung kesenian untuk menampilkan pertunjukan khas Bandung.
Bandara pun diharapkan tidak hanya menjadi ruang transit. Ada cerita tentang kota yang ingin disampaikan kepada setiap penumpang yang datang.
Karya seniman Bandung akan ditempatkan di sejumlah titik. Saat ini, salah satu ruang kesenian masih diisi oleh Mang Udjo atau Saung Angklung Udjo.
Dari sana, pengalaman Bandung ingin diperluas. Wisatawan tidak hanya diajak melihat karya seni, tetapi juga mengenal produk yang tumbuh dari kreativitas warga kota.
Kuliner, fesyen, kerajinan, dan berbagai produk lokal lainnya akan mendapat ruang. Pemkot Bandung bahkan mendorong pengusaha menengah dan kecil bersama Dekranasda untuk membuka gerai di kawasan bandara.
“Saya akan mendorong pengusaha menengah dan kecil bersama Dekranasda untuk membuka gerai,” ujar Farhan.
Gagasan tersebut sekaligus membawa kepentingan ekonomi lokal. Wisatawan yang baru tiba di Bandung diharapkan memiliki pilihan untuk langsung berbelanja atau menikmati produk khas kota.
Dengan begitu, perjalanan wisata tidak hanya dimulai ketika mereka meninggalkan bandara. Pergerakan ekonomi pun diharapkan sudah dimulai sejak pintu kedatangan dibuka.
Namun, menghadirkan produk lokal ke bandara bukan perkara mudah. Pemkot Bandung masih bernegosiasi dengan pengelola untuk mendapatkan harga sewa ruang yang lebih terjangkau bagi pelaku usaha.
Pembahasan tersebut belum menemukan titik temu. Pengelola bandara tetap mempertimbangkan aspek bisnis dalam menentukan harga sewa. “Belum. Masih alot karena ada hitung-hitungan bisnis,” kata Farhan. (gin)
Editor : Inilahkoran

