Pemprov Jabar Dorong DKM Perkuat Layanan, Masjid Raya Al Jabbar Jadi Primadona Wisata

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai mematangkan langkah optimalisasi Masjid Raya Al Jabbar sebagai destinasi wisata religi unggulan.

Pemprov Jabar Dorong DKM Perkuat Layanan, Masjid Raya Al Jabbar Jadi Primadona Wisata
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID - Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai mematangkan langkah optimalisasi masjid raya Al Jabbar sebagai destinasi wisata religi unggulan. Tingginya jumlah kunjungan yang mencapai 99.118 orang selama libur Iduladha 2026 lalu, menjadi sinyal kuat bahwa masjid ikonik di Kota Bandung itu telah berkembang menjadi salah satu magnet wisata terbesar di Jawa Barat.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan mengatakan, lonjakan kunjungan tersebut harus direspons dengan peningkatan kualitas pelayanan dan fasilitas, agar Al Jabbar tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata religi yang mampu memberikan pengalaman terbaik bagi pengunjung.

Menurutnya, pengembangan destinasi wisata berbasis muslim friendly tourism harus didukung sarana dan prasarana yang memadai, terutama fasilitas dasar yang menjadi kebutuhan wisatawan.

"Terlepas dari kemasan muslim friendly, destinasi para wisata itu harus memenuhi persyaratan-persyaratan dalam konteks prasarana atau fasilitasnya, diantaranya adalah pertama toilet, yang kedua adalah tempat ibadah," kata Iendra di Kota Bandung, Rabu (17/6/2026).

Ia menjelaskan, konsep wisata ramah muslim menjadi salah satu kekuatan Jawa Barat dalam menarik wisatawan. Karena itu, pemerintah terus mendorong pengelola destinasi maupun pelaku usaha pariwisata untuk memenuhi standar pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan muslim.

"Artinya, ini sudah memang kita siapkan. Nah yang kedua, atau kita dorong terus para pelaku usaha untuk menyiapkan dan memfasilitasi hal tersebut," ujarnya.

Iendra menilai, keberadaan masjid raya Al Jabbar sangat potensial menjadi pusat wisata religi yang tidak hanya menarik wisatawan lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara, khususnya dari Malaysia dan negara-negara Timur Tengah.

Apalagi, Jawa Barat saat ini menempati posisi teratas dalam Indonesia Muslim Tourism Index (IMTI), sebuah indikator yang mengukur kesiapan daerah dalam mengembangkan wisata ramah muslim.

"Ini mencerminkan bahwa muslim friendly tourism ini di Jawa Barat sudah cukup mumpuni," ungkapnya.

Menurut Iendra, tren wisatawan muslim mancanegara saat ini mulai bergeser. Mereka tidak lagi hanya mencari destinasi populer seperti kawasan Puncak, Bogor, tetapi juga mulai melirik destinasi baru yang menawarkan pengalaman wisata religi dan budaya Islam.

"Sehingga ini kita terus tingkatkan, kita siapkan untuk menjadi muslim friendly tourism, atau pariwisata bermuslim ya, bernuansa muslim," jelasnya.

Melihat besarnya potensi tersebut, Disparbud Jabar telah berkoordinasi dengan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Jabbar untuk memperkuat tata kelola kunjungan wisatawan. Langkah itu dilakukan, agar pelayanan kepada pengunjung dapat berjalan lebih profesional dan terstruktur.

"Jadi itu sudah coba kita bahas dengan DKM-nya Al-Jabbar ya, jadi pertama kunjung yang namanya pariwisata itu adalah pergerakan atau kunjungan orang dari titik ke titik lain, dengan tujuan satu rekreasi, yang kedua pengembangan diri, mungkin masuk dalam religi, yang ketiga adalah tujuan unik lainnya," tuturnya.

Ia menegaskan, dalam perspektif kepariwisataan, lokasi yang menjadi tujuan kunjungan masyarakat dalam jumlah besar harus dipersiapkan sebagai destinasi yang mampu memberikan pelayanan optimal.

"Nah, sebab itu tempat-tempat manapun yang dikunjungi oleh orang-orang itu disebut dengan pariwisata. Nah, sekarang karena Masjid Al-Jabbar sudah masif dan sudah paling besar kunjungannya, kita sudah mendorong DKM untuk betul-betul mempersiapkan diri dalam rangka pelayanan kepada wisatawan atau pengunjung yang datang ke masjid tersebut," katanya.

Peningkatan pelayanan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari administrasi kunjungan, pengaturan jadwal, sistem informasi, hingga kenyamanan wisatawan selama berada di kawasan masjid.

"Mungkin dari mulai administrasinya, jadwalnya, kemudian pelayanannya di sana, dan lain sebagainya itu harus disiapkan," ujarnya.

Tidak hanya itu, kantor instansi, universitas dan industri saat ini juga berpotensi menjadi tempat wisata. Hal ini dinilai Iendra harus bisa dioptimalisasi, untuk menggerakkan perekonomian.

"Termasuk yang sedang berkembang di Kabupaten Bekasi adalah industri. Industri dikelola oleh swasta. Sekarang Kabupaten Bekasi sudah menetapkan destinasi wisata unggulannya adalah industri. Jadi, setiap tempat yang akan dikunjungi oleh orang banyak, kita mendorong untuk menyiapkan sebagai destinasi wisata," katanya.

Di masjid raya Al Jabbar sendiri, terdapat Galeri Rasulullah yang memang menjadi daya tarik karena memiliki konsep modern. Di mana menyajikan sejarah Nabi Muhammad SAW dan juga agama Islam di Indonesia. 

Galeri Rasulullah sendiri, saat ini dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, melalui UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat dan terbuka bagi masyarakat umum, yang mana mereka bisa mendapatkan tiket masuknya aplikasi Sapawarga.***


Editor : JakaPermana