Pemprov Jabar Mulai Pertimbangkan Relokasi Permukiman Pinggiran Sungai
Pasca terjadinya banjir di Sungai Cikapundung pada pekan lalu, Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin mulai mempertimbangkan untuk relokasi permukiman warga di pinggiran sungai.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Pasca terjadinya banjir di Sungai Cikapundung pada pekan lalu, Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin mulai mempertimbangkan untuk relokasi permukiman warga di pinggiran sungai.
Sebab bila dibiarkan, dikhawatirkan akan mengancam keselamatan masyarakat yang bermukim di pinggir sungai. Selain banjir bandang, relokasi permukiman warga di pinggiran sungai itu pun mengantisipasi dari ancaman longsor akibat tanah tergerus kuatnya arus sungai.
Kendati demikian, Bey Machmudin memastikan dalam penataan dan relokasi permukiman warga di pinggiran sungai ini harus dilakukan secara persuasif serta jangan sampai menimbulkan penolakan dari masyarakat.
"Intinya direlokasi, tapi harus ada pendekatan di masyarakat, jangan sampai menimbulkan gejolak," ujarnya di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024.
Terlebih Pemprov Jabar kata dia, juga sudah menyiapkan beberapa rumah susun dimana bisa dimanfaatkan oleh warga yang direlokasi untuk menjadi tempat hunian baru.
"Juga sudah ada beberapa rumah susun yang sudah siap. Tapi tetap melakukan pendekatan," imbuhnya.
Sementara mengenai adanya dugaan terjadinya banjir akibat kerusakan di Kawasan Bandung Utara (KBU), Bey Machmudin mengaku pihaknya masih melakukan kajian. Hasilnya kelak sambung dia, dapat menjadi bahan pertimbangan oleh pemerintah kota/kabupaten untuk ditindaklanjuti.
"Itu masih asessment, tapi intinya kami provinsi hanya memberikan rekomendasi teknis. Nah harusnya disepakati, diatur juga. Tapi nanti Kepala Bappeda akan berkoordinasi dengan kawasan Bandung Raya untuk mengevaluasi ulang tentang hal tersebut karena banjir kemarin, ada yang menyampaikan itu karena KBU. Ada juga karena debit air sangat tinggi dan tetap kami juga akan mengevaluasi semua, termasuk semua kawasan di sepanjang sungai itu. Kan sebetulnya membahayakan," terangnya.
Sebelumnya Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum Bastari juga turut menyampaikan hal serupa, dimana masyarakat diimbau agar jangan membangun permukiman di pinggir sungai, karena sangat berbahaya dan mengancam keselamatan.
Rumah yang bersentuhan langsung dengan bibir sungai kata Bastari, bila debit air naik dapat menimbulkan longsor dan tentunya mengancam jiwa penduduk yang tinggal di kawasan permukiman tersebut.
Seperti bencana banjir di kawasan Braga, dimana naiknya debit air Sungai Cikapundung, akibat jebolnya tanggul beberapa waktu lalu kata Bastari, sangat tidak bisa diprediksi. Sehingga dia berharap, masyarakat yang membangun permukiman di pinggir sungai untuk segera beralih mencari tempat lebih aman.
"Rumah di pinggir sungai ini sangat membahayakan. Apalagi, langsung berbatasan di atas tebing sungai, langsung tembok rumah," ujarnya belum lama ini.
Dia pun mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung untuk merelokasi permukiman warga di pinggiran sungai kawasan tersebut, guna mencegah terjadinya korban jiwa akibat luapan sungai yang selalu mengintai saat musim hujan tiba.
Sebab menurutnya, kejadian banjir di kawasan Braga tempo hari tidak menutup kemungkinan dapat terjadi kembali di masa mendatang.
"Saya kira ke depan mungkin dengan pihak Wali Kota (Pemkot Bandung) dengan Pemprov Jabar ini bersama-sama, bagaimana untuk mengamankan area yang di kiri, kanan sungai ini, jangan langsung tembok rumah," imbuhnya.
Selain itu, Bastari memastikan selanjutnya pihaknya bersama Pemkot Bandung dan Pemprov Jabar akan melakukan identifikasi mengenai pemanfaatan area bibur sungai, guna memastikan keamanan keselamatan masyarakat.
"Ini tentunya kaitan dengan bagaimana pemanfaatan sepadan sungai untuk keamanan masyarakat ke depan, di sekitar Sungai Cikapundung utamanya di daerah Braga," pungkasnya. (yuliantono)
Editor : Doni Ramdhani


