Perumda Tirtawening Kota Bandung Gandeng PT Adaro untuk Kendalikan Kebocoran Air Minum
Perumda Tirtawening Kota Bandung menjalin kerja sama dengan PT Adaro Tirta Wening. Kolaborasi itu untuk mengendalikan kebocoran air minum.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Perumda Tirtawening Kota Bandung menjalin kerja sama dengan PT Adaro Tirta Wening. Kolaborasi itu untuk mengendalikan kebocoran air minum di wilayah pelayanan utara Kota Bandung.
Direktur Utama Perumda Tirtawening Kota Bandung Sonny Salimi mengatakan, kerja sama dengan PT Adaro Tirta Wening diinisiasi sejak 2016. Usai penandatanganan kontrak pengendalian kebocoran air minum itu, selama tiga bulan ke depan akan dilakukan persiapan untuk memutuskan nilai akhir kerja sama.
"Di tiga bulan itu akan dipastikan ada kebocoran air minum berupa kehilangan air di beberapa titik. Kita sepakati di Utara Perumda Tirtawening Kota Bandung kehilangan air 43 persen dalam data kami. Bersama PT Adaro, kita akan bersama menyepakati ukuran yang akan menjadi indikator keberhasilan sebuah kerja sama, keluhan air, jumlah pelanggan input debit air produksi yang diproduksi," kata Sonny di Hotel Holiday Inn, Selasa 18 Januari 2022.
Baca Juga: Catat! Mulai Kamis Nanti Perumda Tirtawening Setop Aliran Air ke Dua Wilayah Kota Bandung
Dia menuturkan, target yang diharapkan dari kerja sama 11 tahun yaitu tingkat kehilangan atau kebocoran air minum itu dapat menurun dari 43 persen menjadi 17 persen atau kurang lebih 26 persen terselamatkan. Selain itu alasan kerja sama yang dilakukan baru di wilayah pelayanan utara disebabkan anggaran terbatas.
"Berdasarkan studi untuk perbaikan kebocoran air minum butuh Rp1,8 triliun ini asumsi business plan 2016-2021. Lebih dari 40 tahun umur pipa artinya kebocoran akibat pipa mendominasi kehilangan air," ucapnya.
Sonny menambahkan, investasi dengan nilai besar tidak dapat dihadirkan secara langsung di Bandung. Karena itu pihaknya akan melakukan secara bertahap dengan terlebih dahulu dilakukan di pelayanan utara.
Baca Juga: Pencurian Penutup Lubang Got Milik Perumda Tirtawening di Bandung Kembali Marak
"Kenapa wilayah utara, karena secara teori dan teknologi akan lebih mudah mengendalikan tingkat kehilangan air dan pengisolasian, dari wilayah air banyak dan bertekanan tekanan ini memproses pengaliran air," ujar Sonny.
Sementara itu, Direktur Utama PT Adaro Tirta Wening Ahmad Rosyid mengatakan kerja sama dengan Perumda Tirtawening Kota Bandung itu akan berlangsung selama 11 tahun ke depan. Total nilai investasi yang dikucurkan perusahaan sebesar Rp244 miliar.
Selain itu pihaknya merencanakan, mendanai, membangun dan memelihara sejumlah kawasan bermeter district meter area (DMA).
Baca Juga: Kualitas Air Baku Menurun, Perumda Tirtawening Ajak Komisi B Tinjau ke Lapangan
"Target kerja sama total selama 11 tahun itu 53 juta meter kubik, atau 219 liter per detik air yang terselamatkan. Ada pun tahapan tahun pertama sampai dengan tahun ketiga itu, tidak langsung 219 liter per detik, tapi bertahap. Pertama kalau tidak salah tahun pertama 12 liter per detik," ujar Ahmad.
Menurutnya, pada tahun pertama dan kedua itu pihaknya akan membangun 72 DMA. Keberhasilan tingkat penurunan air, dapat terlihat dari telah terbentuk DMA.
"Jadi, tahun pertama mungkin 36 DMA, tahun kedua 72 DMA, tahun ketiga seluruh DMA selesai. Tahun keempat stabil penurunan di angka 219 liter per detik atau kurang lebih 5,5 juta meter kubik setahun secara bertahap, tahun ke 11, 53 juta meter kubik," ucapnya.
Baca Juga: Efisiensi, Perumda Tirtawening Kota Bandung Gilir Aliran Air
Ahmad menilai investasi yang dikucurkan untuk kerja sama tersebut selama 11 tahun mencapai Rp244 miliar. Pihaknya berminat mengucurkan investasi sebab tingkat kehilangan air di seluruh Indonesia mencapai 32,8 persen termasuk di pelayanan utara mencapai 43 persen.
"Kenapa tertarik, ini adalah peluang bisnis. Disampaikan direktur bahwa secara keseluruhan peluang untuk investasi di air minum tidak hanya di unit produksi ini. Memang tingkat kehilangan air seluruh Indonesia disampaikan 32,8 persen. Di sisi lain di utara 43 persen," ujar dia.
Ahmad menyebut, selama empat tahun pihaknya mengurus kerja sama tersebut dari sisi komersil dan teknis serta memastikan keamanan. Selain itu model bisnis tersebut ke depan akan diadopsi perumda bahkan dapat menjadi bench mark. (Yogo Triastopo)
Editor : inilahkoran


