Prancis VS Belgia: Selalu Seru!

LAGA Prancis vs Belgia adalah pergolakan batin yang rumit. Selalu dibumbui drama, pertaruhan gengsi serta dendam yang tak kunjung padam.

Prancis VS Belgia: Selalu Seru!
Net

Oleh: Bsafaat

Kedua ‘tetangga’ itu akan kembali bertarung di tempat ikonik, Stade de France, Selasa (6/10) dini hari WIB. Ini bukan hanya tentang hitung-hitungan poin melainkan pertaruhan gengsi dua kekuatan sepak bola Eropa.

Secara geografis dan kultural, Prancis dan Belgia adalah cerminan satu sama lain. Mereka berbagi bahasa, budaya, hingga pekerja yang setiap hari melintasi perbatasan sepanjang 620 kilometer.

Selama satu abad, duel kedua tim kerap dijuluki Le Match Sympathique, laga persahabatan penuh tawa di mana suporter kedua kubu biasa berbagi segelas bir di area stadion. Namun, segalanya berubah total sejak malam musim panas di Saint Petersburg pada Piala Dunia 2018.

Kekalahan tipis Belgia di semifinal melahirkan istilah “seum”, sebuah kosakata lokal Belgia untuk menggambarkan rasa dongkol dan luka batin mendalam akibat dominasi sang tetangga.

Bagi publik Belgia, menghadapi Prancis selalu memicu riak emosional yang masif.

Ada kerinduan besar untuk lepas dari bayang-bayang “kakak laki-laki” yang secara historis lebih sukses di panggung dunia.

Di sisi lain, Prancis yang bertindak sebagai tuan rumah membawa beban psikologis untuk mempertahankan keangkuhan takhta mereka di hadapan publik Paris.

Bagi publik sepak bola Prancis, Stade de France akhir pekan lalu menyisakan rasa getir yang ganjil. Hasil imbang 1-1 kontra Italia menyisakan ruang kosong yang menganga.

Tanpa kehadiran Kylian Mbappe yang terbaring cedera, lini serang Les Bleus kehilangan magnitudo teatrikalnya. Di sanalah keindahan sepak bola ini bermula: pada pundak rapuh Michael Olise.

Olise, pemuda yang mencetak gol tunggal Prancis ke gawang Italia, memikul beban sejarah yang belum sepenuhnya siap ia sandang. Saat kartu merah Dayot Upamecano keluar dan stadion mendadak hening oleh kecemasan, kamera televisi menangkap sorot mata Olise—tatapan seorang anak muda yang menyadari bahwa panggung pertunjukan kini sepenuhnya menjadi miliknya.

Di bawah arahan Zinedine Zidane, generasi baru Prancis ini sedang belajar merangkak keluar dari bayang-bayang era emas masa lalu. Mereka bukan lagi pelayan Mbappe; mereka adalah arsitek bagi takdir mereka sendiri.

“Dia pemain yang sangat menentukan.

Saya rasa, kehadirannya di lapangan benarbenar memberi dampak berbeda,” ungkap Zidane.

Ancaman Jenderal Tua Hanya berjarak beberapa ratus kilometer ke arah utara, riuh rendah di Stadion Liège akhir pekan lalu menceritakan kisah yang sama sekali berbeda.

Kemenangan telak Belgia 3-0 atas Turkiye dipimpin oleh seorang pria berusia 35 tahun yang bermain seolah-olah ia memiliki perjanjian rahasia dengan sang waktu: Kevin De Bruyne.

Dua gol (brace) De Bruyne ke gawang Turkiye adalah puisi tentang dedikasi.

Ketika “Generasi Emas” Belgia satu per satu undur diri—mulai dari Eden Hazard hingga benteng pertahanan lawas mereka— De Bruyne tetap berdiri tegak sebagai mercusuar.

Ia adalah jembatan waktu yang menghubungkan masa lalu yang megah dengan masa depan Belgia yang diwakili bocah-bocah seperti Mika Godts. (bsf)

5 LAGA TERAKHIR PRANCIS • 03/10/26: Prancis 1-1 Italia • 29/09/26: Belgia 0-1 Prancis • 26/09/26: Turki 0-1 Prancis • 19/07/26: Prancis 4-6 Inggris • 15/07/26: Prancis 0-2 Spanyol

5 LAGA TERAKHIR BELGIA 03/10/26: • Belgia 3-0 Turki 29/09/26: • Belgia 0-1 Turki 26/09/26: • Italia 0-2 Belgia 11/07/26: • Spanyol 2-1 Belgia 07/07/26: • AS 1-4 Belgia


Editor : Inilahkoran