Proyek TPPAS Legok Nangka Bergulir, Pusat Sampah Bandung Raya Dibangun Agustus 2026

Pembangunan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka, Kabupaten Bandung akhirnya memasuki fase kepastian. Proyek strategis pengolahan sampah regional itu dipastikan mulai dikerjakan Agustus 2026.

Proyek TPPAS Legok Nangka Bergulir, Pusat Sampah Bandung Raya Dibangun Agustus 2026
Proyek TPPAS Legok Nangka dipastikan mulai dikerjakan Agustus 2026. (Dok InilahKoran)

INILAHKORAN.ID – Kepastian pembangunan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka, Kabupaten Bandung, akhirnya terjawab. 

Proyek strategis pengolahan sampah regional tersebut dipastikan segera berjalan setelah Pemprov Jabar memperoleh kepastian penugasan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kepada PT PLN (Persero).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsih, mengatakan surat penugasan dari Kementerian ESDM memang belum terbit secara resmi. Namun, prosesnya telah dinyatakan final dan kini tinggal menunggu penandatanganan menteri.

“Secara administrasi memang belum terbit, tapi Alhamdulillah sudah final. Kemarin bersama Pak Sekda kami bertemu Dirjen ESDM, dan disampaikan surat tersebut sudah di meja Pak Menteri. Insya Allah minggu ini, paling lambat seminggu, sudah bisa diterima Pak Gubernur,” ujar Ai, Kamis (15/1/2026).

Dengan terbitnya surat penugasan tersebut, Ai menegaskan status proyek TPPAS Legok Nangka kini tidak lagi berada dalam ketidakpastian. Fasilitas ini akan menjadi pusat pengolahan sampah regional Bandung Raya.

“Setelah konstruksi selesai, TPPAS Legok Nangka akan langsung digunakan untuk menampung dan mengolah sampah dari wilayah Bandung Raya,” katanya.

Meski begitu, Pemprov Jabar masih harus menindaklanjuti penugasan tersebut dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) bersama PLN. Ai optimistis tahapan ini tidak akan memakan waktu lama karena skema harga listrik telah disepakati sebelumnya.

“PJBL pasti menyusul. Saya kira prosesnya tidak akan lama karena harga jual listriknya sudah disepakati, jadi tidak ada negosiasi ulang,” ujarnya.

Setelah PJBL rampung, proyek akan memasuki tahapan financial close yang menjadi tanggung jawab konsorsium pengelola, yakni Konsorsium Sumitomo Hitachi Zosen. 

Konsorsium asal Jepang tersebut resmi memenangkan tender proyek TPPAS Legok Nangka pada 12 Juli 2023 dan didukung Japan International Cooperation Agency (JICA).

“Kemudian masuk ke proses financial close untuk pemenuhan pembiayaan. Biasanya memakan waktu sekitar enam sampai sembilan bulan. Setelah itu baru masuk tahap konstruksi,” jelas Ai.

DLH Jawa Barat belum dapat memastikan secara rinci waktu dimulainya konstruksi fisik. Namun, pihaknya menargetkan pekerjaan lapangan dapat dimulai paling lambat Agustus 2026.

“Mudah-mudahan konstruksi bisa dimulai Agustus 2026 paling lambat. Dinamikanya cukup luar biasa, terutama terkait penugasan menteri, sehingga sempat mengalami kemunduran,” tuturnya.

Meski sempat terkendala administrasi, Pemprov Jabar tetap optimistis target pembangunan TPPAS Legok Nangka pada 2026 dapat tercapai.

“Kami berharap bisa lebih cepat, tetapi sejauh ini target konstruksi tahun 2026 masih realistis. Bulannya nanti kita lihat lagi,” ucapnya.

Sebelumnya, Pemprov Jawa Barat dan PLN telah menandatangani nota kesepahaman terkait penyediaan tenaga listrik dari TPPAS Regional Legok Nangka. PLN menyatakan komitmennya mendukung pengolahan sampah menjadi energi hijau melalui penyerapan listrik yang dihasilkan.

TPPAS Legok Nangka memiliki luas sekitar 90 hektare dengan kapasitas pengolahan 1.853 hingga 2.131 ton sampah per hari. Fasilitas ini akan melayani enam daerah, yakni Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Garut. ***


Editor : Gin gin T Ginulur