Reaktivasi Jalur Cipatat–Padalarang Jadi Penentu Akses Baru Jakarta–Bandung, Jabar Mulai Survei Trase Jalur Baru

Pemprov Jabar mulai menggerakkan proyek strategis yang bisa mengubah pola mobilitas wilayah selatan dan barat Jabar.

Reaktivasi Jalur Cipatat–Padalarang Jadi Penentu Akses Baru Jakarta–Bandung, Jabar Mulai Survei Trase Jalur Baru
Melalui Dinas Perhubungan, Pemprov Jabar resmi memulai survei teknis trase Cipatat–Padalarang, satu-satunya ruas yang belum tersambung dalam jaringan kereta lama Jakarta–Bogor–Sukabumi–Cianjur–Bandung. (dok)

INILAHKORAN.ID - Pemprov Jabar mulai menggerakkan proyek strategis yang bisa mengubah pola mobilitas wilayah selatan dan barat Jabar.

Melalui Dinas Perhubungan, Pemprov Jabar resmi memulai survei teknis trase Cipatat–Padalarang, satu-satunya ruas yang belum tersambung dalam jaringan kereta lama Jakarta–Bogor–Sukabumi–Cianjur–Bandung.

Langkah ini menandai dimulainya tahap awal untuk menghidupkan kembali koridor penting yang selama puluhan tahun terbengkalai, sekaligus membuka peluang hadirnya jalur alternatif menuju wilayah Bandung Raya.

Kepala Bidang Perkeretaapian dan Pengembangan Transportasi Dishub Jabar Tata Bina Udin mengatakan, survei dilakukan bersama Kementerian Perhubungan, PT KAI, dan Pemkab Bandung Barat.

“Itu masih Bandung Barat, stasiun eksisting jalur Jakarta-Bandung. Kan Kementerian sedang menyusun DED, jadi kita hanya memastikan titik mana saja hasil kajian tersebut,” ujarnya, Rabu 10 Desember 2025.

Tata menegaskan, hampir seluruh jalur peninggalan lama telah tersambung kecuali Cipatat–Padalarang yang menjadi 'missing link'.

“Selama ini, jalur kereta api yang sudah ada itu dari Jakarta, Bogor Sukabumi, Cianjur dan Cipatat. Jadi untuk ke Padalarang itu tinggal Cipatat–Padalarang saja, sedikit lagi. Jadi kalau itu sudah tersambung ya, dari mulai Jakarta, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung itu sudah enak banget tersambung semua kan,” katanya.

reaktivasi ini berpotensi menghadirkan akses alternatif menuju Bandung yang tidak bergantung pada jalur Cikampek, meringankan kepadatan jalur utama dan memperkuat konektivitas ekonomi kawasan.

Survei lapangan menunjukkan banyak titik jalur lama sudah tidak memungkinkan diaktifkan kembali. Kontur elevasi yang curam membuat opsi reaktivasi penuh sulit dilakukan.

“Mungkin teknologi keretanya harus lebih canggih lagi kalau menggunakan jalur yang sekarang. Jadi ada semacam pembukaan jalur baru, kan pasti di semua jalur juga nggak mungkin reaktivasi semua, pasti kondisi segala macamnya kan udah berubah. Pasti ada yang buka jalur baru kan,” katanya.

Sebab itu, rencana pembukaan jalur baru mencapai sebagian besar trase, yakni sekitar 9 km dari total 13 km, melintasi kawasan pertanian dan perkebunan.

“Kurang lebih 13 km dari Cipatat–Padalarang. Mayoritas sih di pertanian dan perkebunan,” katanya.

Rencana pembangunan fisik baru akan dimulai setelah detail engineering design (DED) tuntas tahun ini.

“Kita akan merencana pengadaan tanahnya di kurang lebih 2027–2028, karena perencanaannya banyak juga, belum lagi penentuan penetapan trasenya, jadi mungkin fisiknya sekitar 2028–2029,” ucapnya.

Walaupun pekerjaan konstruksi dilakukan pemerintah pusat, Pemprov Jabar kata dia tetap berperan pada proses pembebasan lahan.

“Pembebasan lahan biasanya diserahkan ke daerah, tapi belum dianggarkan, baru rencana pengadaannya saja, karena menunggu DED-nya dulu, luasan yang harus dibebaskan berapa. Tapi secara program sudah ada di RPJMD Provinsi Jabar,” tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani