Harga Daging Sapi Tinggi, RPH Milik Pemkab Cirebon Sepi

Harga daging sapi sampai sekarang masih tinggi. Naiknya harga daging sapi membuat Rumah Potong Hewan (RPH) milik Pemerintah Daerah

Harga Daging Sapi Tinggi, RPH Milik Pemkab Cirebon Sepi
Naiknya harga daging sapi pun membuat Rumah Potong Hewan (RPH) milik Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Cirebon, di Battembat Kecamatan Tengahtani, setiap harinya sepi.
 
INILAHKORAN, Cirebon - Harga daging sapi sampai sekarang masih tinggi. Naiknya harga daging sapi pun membuat Rumah Potong Hewan (RPH) milik Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Cirebon, di Battembat Kecamatan Tengahtani, setiap harinya sepi.
 
Tak hanya itu, kenaikan harga daging sapi juga berimbas pada sepinya pembeli di pasaran. Seperti diketahui, harga sapi impor hingga daging sapi impor beku harganya melonjak. Begitu juga dengan harga sapi Jawa atau lokal sama.
 
Ketua Pelaksana RPH Battembat Tengahtani, Untung menjelaskan, kenaikan harga sapi dan dagingnya berdampak pada retribusi RPH yang telah dikelolahnya. Bahkan, jika dipersentasekan, penurunannya hingga mencapai 25 sampai 30 persenan.
 
 
"Kita kan hanya fasilitas dari Pemda jadi tidak rugi. Tapi ya turun, kurang lebihnya ya segitu antara 25 sampai 30 persenan. Kalau penyembelihan minimal melayani sehari biasanya 3 ekor bisa jadi 2 atau 1 ekor saja," kata Untung, Selasa (8/3/2022)
 
Menurutnya, kenaikan harga daging sapi tahun ini cukup cepat. Bahkan, dari Januari sampai sekarang sudah terjadi tiga kali kenaikan harganya. 
 
"Tahun ini saja lumayan sudah 3 kali naik. Ini untuk sapi impor dan otomatis Sapi Jawanya juga ikutan naik," ungkapnya.
 
 
Hal yang sama dikeluhkan para penjual daging sapi di Pasar Pasalaran Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. Dengan naiknya harga sapi membuat penjualan dan keuntungan mereka menipis. Mereka pun pasrah dan tidak bisa berbuat apa dengan naiknya harga sapi tersebut meski dagangan mereka sepi.
 
"Penjualan turun, keuntungan juga lebih sedikit. Karena kalau cari untung lebih banyak khawatir tidak laku," kata salah seorang penjual daging sapi di Pasar Pasalaran, Hj Nani.
 
Saat ini saja, akunya, langganannya menurunkan bobot pembelian. Ini berlaku sejak harga jual daging di pasaran berada di angka Rp 120 ribu perkilonya. Bahkan, dari harga jual daging Rp 120 ribu itu, ia hanya memperoleh keuntungan Rp 5.000 saja.
 
 
"Ini sapi Jawa harga belanja di tukang jagalnya kan Rp 115 ribu perkilo, dan saya tidak bisa jual lebih dari Rp 120 ribu perkilonya. Jadi untungnya juga sedikit sekali," jelasnya.
 
Nani mengaku, harga dan penjualan daging sapi tahun ini lebih parah dibanding tahun lalu. Sebab, sekarang harga sudah melonjak tinggi bahkan sebulan sebelum puasa.
 
"Parah tahun ini kalau tahun kemarin harganya itu naik tidak setinggi ini.  Kalau tidak salah Rp115 ribu,  itu saya jual dan harga di penjagal masih memiliki keuntungan yang lumayan dan pembelinya juga," ucapnya.
 
 
Nani berharap agar harga sapi dapat segera pulih, sehingga penjualan kembali normal. Sehingga  harga di bulan puasa mendatang tidak terlalu membumbung tinggi. (maman suharman)***
 
 


Editor : inilahkoran