Respons Dedi Mulyadi Soal Dokter Muda Meninggal Diduga Terpapar Campak
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan tanggapan soal seorang dokter muda yang diduga terinfeksi campak saat bertugas di Kabupaten Cianjur.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Wafatnya seorang dokter muda yang diduga terinfeksi Campak saat bertugas di Kabupaten Cianjur, memicu keprihatinan mendalam sekaligus menjadi peringatan keras bagi penanganan wabah di Jawa Barat.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menilai, peristiwa ini sebagai bentuk pengabdian tertinggi tenaga medis yang gugur di garis depan pelayanan kesehatan.
"Saya sampaikan duka mendalam, itu pengabdian tertinggi dari seorang dokter, meninggal di tempat ketika sedang bertugas," ujar Dedi di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin 30 Maret 2026.
Ia menegaskan, kejadian tersebut tidak boleh dipandang sebagai kasus biasa. Pemerintah daerah diminta meningkatkan kewaspadaan serta mempercepat langkah penanganan terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
"Penyakitnya harus segera ditangani dan diawaspadai, apalagi bupatinya seorang dokter," ucapnya.
dokter internship berinisial AMW (26) dilaporkan meninggal dunia pada Kamis (26/3/2026) lalu dengan status suspek Campak, usai menjalankan tugas di salah satu rumah sakit di Cianjur.
Merespons perkembangan ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) langsung mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/1602/2026 sebagai peringatan dini kepada seluruh fasilitas layanan kesehatan agar meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam melindungi tenaga medis dari paparan penyakit menular.
Secara nasional, situasi Campak masih menjadi perhatian. Hingga pekan ke-11 tahun 2026, tercatat 58 KLB di 39 kabupaten/kota. Meski sempat melonjak hingga 2.740 kasus di awal tahun, angka tersebut kini menurun menjadi 177 kasus, namun tetap memerlukan pengendalian ketat.
Sebagai langkah strategis, pemerintah menggenjot pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) dan Catch-Up Campaign (CUC) di 102 kabupaten/kota. ORI difokuskan untuk memutus rantai penularan secara cepat melalui imunisasi massal, sementara CUC bertujuan menutup celah kekurangan imunisasi pada anak.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Raddn Vini Adiani Dewi menegaskan, pihaknya telah menginstruksikan seluruh daerah untuk bergerak cepat berbasis data lapangan.
"Kemarin sudah rapat dengan semua Kepala Dinas Kesehatan, saya menyampaikan bahwa harus cepat dilakukan pemetaan, jadi ketika kasusnya meningkat, harus langsung dilakukan CUC bagi orang-orang yang belum diimunisasi Campak. Tapi kalau kasusnya banyak itu dilakukan namanya ORI," katanya.
Saat ini, intervensi intensif tengah dilakukan di Kabupaten Garut dan Tasikmalaya yang mencatat lonjakan kasus cukup tinggi. Di wilayah lain seperti Cianjur, pelaksanaan ORI dan CUC dilakukan secara selektif sesuai sebaran kasus di tingkat kecamatan. Program serupa juga akan diperluas ke sedikitnya 10 kabupaten/kota lain di Jawa Barat dalam waktu dekat.
Sisi lain, tantangan besar masih membayangi. Data hingga 2025 menunjukkan sekitar 102.000 anak di Jawa Barat belum mendapatkan imunisasi Campak secara lengkap. Pemerintah kini menargetkan percepatan vaksinasi untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
"Yang belum akan kita kejar imunisasinya karena sekitar 102 ribu anak, data hingga 2025, yang belum diimunisasi secara lengkap. Untuk orang dewasa diharapkan secara mandiri," ungkapnya.
Vini turut mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap vaksinasi. Ia menilai rendahnya cakupan imunisasi menjadi salah satu pemicu tingginya kasus Campak di sejumlah daerah.
Dengan kombinasi respons cepat pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan lonjakan kasus Campak dapat ditekan dan tidak berkembang menjadi krisis kesehatan yang lebih luas di Jawa Barat.***
Editor : JakaPermana

