Retret Kepala Daerah Gelombang II Dimulai, Wamendagri Soroti Kesehatan 10 Peserta

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menyoroti kesehatan 10 peserta Retret Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Gelombang II, yang telah dimulai di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Minggu 22 Juni 2025.

Retret Kepala Daerah Gelombang II Dimulai, Wamendagri Soroti Kesehatan 10 Peserta
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menyoroti kesehatan 10 peserta Retret Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Gelombang II, yang telah dimulai di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Minggu 22 Juni 2025.

INILAHKORAN, Bandung - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menyoroti kesehatan 10 peserta retret kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah Gelombang II, yang telah dimulai di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Minggu 22 Juni 2025.

Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan, diketahui lima peserta dinyatakan memerlukan observasi dengan penanda gelang atau pita berwarna kuning dan lima lainnya membutuhkan atensi khusus dengan tanda berwarna merah.

Adapun pemberian gelang dan pita berwarna ini merupakan upaya Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), untuk menandai kondisi kesehatan masing-masing peserta. Selain warna kuning dan merah, diberikan juga gelang berwarna hijau dan pita biru yang menandakan peserta dalam keadaan sehat.

“Jadi sekitar sepuluh orang ada dalam pengawasan ketat, yang sangat ketat tentu yang pita merah tadi,” Wamendagri Bima Arya.

Bima menjelaskan, ruang kelas pembelajaran akan menyesuaikan dengan kondisi kesehatan peserta. Misalnya, ada peserta yang mengalami cedera lutut sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus. Pihaknya akan kembali memastikan kesiapan masing-masing peserta yang kesehatannya diatensi agar dapat disesuaikan oleh panitia.

“Kita nanti tanyakan apakah kuat atau tidak? Kalau tidak, tidak ada masalah. Kita akan geser kelasnya, kita sesuaikan untuk yang lebih aksesibel,” ucapnya.

Bima menjelaskan, hari pertama Retret Gelombang II diikuti oleh 84 peserta yang terdiri dari kepala daerah dan wakil kepala daerah. Namun, ia menginformasikan bahwa nantinya akan ada dua peserta tambahan, yaitu Bupati dan Wakil Bupati Kutai Kartanegara, yang akan segera dilantik dan kemudian bergabung mengikuti retret.

“Jadi [Bupati] Kutai Kartanegara dan wakilnya mungkin akan bergabung setelah pelantikan besok atau lusa. Jadi total tetap ada 86 kepala daerah,” jelasnya.

Kehadiran merrka disambut dengan pengalungan bunga secara simbolis kepada tiga perwakilan kepala daerah, yakni Gubernur Bali I Wayan Koster, Wali Kota Sabang Zulkifli H Adam dan Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti.

Kedatangan peserta yang merupakan kepala daerah dan wakil kepala daerah itu turut diiringi Defile Drumband Gita Abdi Praja IPDN.

Selain Bima, para peserta juga disambut oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Sugeng Hariyono, Rektor IPDN Halilul Khairi, beserta jajaran pejabat terkait lainnya.

Selanjutnya, secara serempak, para peserta dipandu menuju Lapangan Parade IPDN. Di lokasi ini, mereka mengikuti pelaksanaan Apel Penerimaan Kegiatan retret kepala daerah Gelombang II yang dipimpin oleh Wamendagri Bima.

Dalam amanatnya, Bima menyampaikan bahwa praja IPDN merupakan pembantu kepala daerah dalam melayani rakyat. Untuk itu, kata dia, Kemendagri dengan bangga menjadikan Kampus IPDN sebagai lokasi retret kepala daerah Gelombang II, sejalan dengan semangat melayani tersebut.

“Selama mengabdi, menjalankan tugas sebagai kepala daerah, tidak ada hal lain selain mengabdikan diri untuk melayani warga, [terutama] bagi Bapak-Ibu semua kepala daerah,” imbuhnya.

Bima menjelaskan, di Kampus IPDN keberagaman adalah sebuah keniscayaan. Pasalnya, putra-putri terbaik dari seluruh penjuru Nusantara dididik dan ditempa menjadi pelayan masyarakat. Mereka tidak dibedakan berdasarkan suku, ras, maupun etnis. Sebaliknya, semua nilai pembelajaran berada dalam koridor Bhinneka Tunggal Ika.

“Kami ingin agar Bapak Gubernur, Wakil Gubernur, Wali Kota, Wakil Wali Kota, Bupati, dan Wakil Bupati peserta retret semakin kuat kebersamaan dalam keberagaman. Semakin bangga menjadi bagian dari pelayan Nusantara,” sambung Bima.

Seperti pada pelaksanaan retret kepala daerah Gelombang I, kegiatan ini didesain agar para kepala daerah beserta wakilnya memahami tugas pokok dan fungsinya. Selain itu, diharapkan mereka juga memahami gagasan besar Presiden RI dalam mengakselerasikan Asta Cita.

“Kami berharap hari-hari yang ada di sini menambah kekompakan kepala daerah dan wakilnya. Hari-hari dan yang ada di sini semua merasakan kebersamaan yang kuat antara kepala daerah dan wakilnya,” kata dia.

Sebelumnya, para peserta retret ini dilepas oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir di Plaza Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta.

Dari kantor Kemendagri, para peserta akan menggunakan Kereta Cepat Whoosh menuju Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, sebagai lokasi retret.

Dalam amanatnya di hadapan para peserta retret yang mengenakan seragam PDL Praja, Tomsi menyampaikan bahwa kegiatan orientasi atau retret kepala daerah bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan juga sarana untuk mendisiplinkan diri. Selama kegiatan, para kepala daerah akan mengurus kebutuhan pribadinya secara mandiri sebagai bagian dari latihan disiplin kerja.

“Biasa sehari-hari ada yang nemenin, ada yang setrika, bersih-bersih sepatu, sekarang ngurus sendiri, sama seperti dulu lagi. Kemudian dimulai yang biasa bangun siang, sekarang bangun pagi. Olahraga biar sehat, itu juga untuk melatih supaya kita biasa rapat pagi. Kemudian dilanjutkan dengan materi,” katanya.

Tomsi menjelaskan, materi retret akan mencakup tugas pokok dan fungsi (tupoksi) kepala daerah, regulasi yang berlaku, serta kebijakan pemerintah, termasuk kebijakan nasional. Selain itu, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para kepala daerah untuk saling mengenal dan bertukar informasi terkait daerah masing-masing.

“Diharapkan dapat menjadi suatu tim yang baik. Dan dalam pelaksanaannya bisa saling membantu untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang berprinsip good governance. Dan tentunya kita ketahui bersama bahwa setiap kabupaten itu tidak bisa berdiri sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, setiap daerah memiliki keterkaitan dengan daerah lainnya, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Misalnya, dalam program pengendalian inflasi, kerja sama antardaerah penting ketika ada komoditas yang mengalami lonjakan harga.

“Kalau di sini ada cabai banyak, di sini cabai mahal, iya kan? Ini bisa saling berhubungan. Kenapa? Kita melayani masyarakat supaya masyarakat kita mendapatkan sembako dengan harga yang murah, dengan harga yang terjangkau,” tambahnya.

Lebih lanjut, Tomsi berpesan bahwa retret ini juga menyentuh aspek nasionalisme. Setiap daerah perlu mengedepankan kepentingan nasional di atas kepentingan daerahnya sendiri. Pemahaman ini penting agar Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap utuh dan dapat maju bersama. “Ini juga tentunya harus dapat dipahami dengan sebaik-baiknya,” ucapnya.

Sementara itu, KCIC menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan pemerintah pusat dalam memilih layanan Kereta Cepat Whoosh sebagai moda transportasi bagi para kepala daerah yang mengikuti kegiatan retret nasional di Kampus IPDN Jatinangor.

Perjalanan rombongan yang terdiri dari 84 kepala daerah ini dilakukan dari Stasiun Halim, menuju Stasiun Tegalluar Summarecon. Rombongan diberangkatkan menggunakan Whoosh G1017 pukul 10.00 WIB dan tiba di Tegalluar pada pukul 10.47 WIB.

Setibanya di stasiun, rombongan langsung melanjutkan perjalanan menuju Kampus IPDN Jatinangor untuk mengikuti rangkaian kegiatan retret yang akan berlangsung hingga 26 Juni 2025.

General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan, pemanfaatan Whoosh dalam perjalanan rombongan ini menunjukkan bagaimana layanan transportasi cepat, efisien, dan nyaman dapat mendukung kegiatan strategis pemerintahan secara optimal.

“Pemanfaatan Whoosh dalam agenda strategis pemerintah ini menjadi bukti nyata bahwa Whoosh tidak hanya mendukung mobilitas masyarakat umum, tetapi juga dapat diandalkan untuk kebutuhan perjalanan rombongan agenda resmi negara,” ujar Eva.

Perjalanan dari Jakarta ke Bandung yang biasanya memakan waktu berjam-jam, kini dapat ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam dengan Whoosh.

Dukungan Whoosh dalam kegiatan ini menjadi cerminan dari peran KCIC dalam mendukung transformasi sistem transportasi nasional. Dengan hadirnya Whoosh, konektivitas antarwilayah dan pusat pendidikan semakin terbuka dan memperkuat ekosistem mobilitas yang modern dan berkelanjutan.

Eva menambahkan, pemilihan Whoosh sebagai moda transportasi kegiatan ini menjadi bentuk pengakuan nyata atas keandalan layanan Whoosh sebagai moda transportasi masa kini. 

“Kecepatan, ketepatan waktu, kenyamanan, serta aksesesibilitas yang baik menjadikan Whoosh sebagai pilihan terpercaya tidak hanya untuk masyarakat umum, tetapi juga dalam mendukung agenda-agenda strategis pemerintahan di tingkat nasional," pungkasnya.


Editor : JakaPermana