Revitalisasi Tanpa Komisi
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yuliantono
INILAH, Bandung - Ratusan sekolah di Jawa Barat bersiap memasuki babak baru. Dinding kusam, ruang belajar terbatas, hingga fasilitas praktik yang belum memadai, akan mendapat sentuhan melalui Program Revitalisasi SMA, SMK, dan SLB Tahun 2026 dari pemerintah pusat.
Sebanyak 908 sekolah di Jawa Barat menerima bantuan revitalisasi. Program ini menjadi angin segar bagi dunia pendidikan di tengah keterbatasan anggaran daerah untuk membenahi sarana dan prasarana sekolah.
Namun, revitalisasi tidak boleh berhenti pada bangunan yang berdiri megah. Ada harapan yang jauh lebih besar di balik pembangunan itu. Siswa tentu berharap ruang kelas lebih nyaman, laboratorium yang benar-benar digunakan, ruang praktik, serta lingkungan sekolah sehat bagi siswa dan guru.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Purwanto mengingatkan, setiap rupiah bantuan harus memberikan dampak nyata terhadap proses belajar mengajar. Karena itu, sekolah diminta tidak sekadar mengejar penyelesaian proyek, tetapi memastikan fasilitas yang dibangun benar-benar menjawab kebutuhan pembelajaran.
“Revitalisasi harus disyukuri karena pemerintah pusat memberikan bantuan kepada kita. Bantuan ini penting untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana di Jawa Barat,” ujar Purwanto saat membuka Rapat Koordinasi Program Revitalisasi Satuan Pendidikan SMA, SMK, dan SLB Tahun 2026 di Disdik Jabar, Kota Bandung, Rabu (9/9).
Bagi Purwanto, kesempatan tersebut harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Revitalisasi merupakan momentum untuk mempercepat perbaikan fasilitas pendidikan yang selama ini masih menjadi pekerjaan rumah.
Tetapi ada hal lain yang tak kalah penting: bagaimana bantuan itu dikelola. Purwanto meminta seluruh kepala sekolah dan panitia pembangunan menjaga integritas sejak tahap perencanaan hingga pekerjaan selesai. Tidak boleh ada fee, komisi, ataupun permintaan keuntungan yang tidak diatur dalam ketentuan.
“Ini merupakan amanat yang harus dilakukan secara akuntabel, transparan, dan berintegritas,” tegasnya.
Dia bahkan mengingatkan agar tidak ada pihak yang menggunakan nama pejabat atau institusi tertentu untuk meminta keuntungan selama proyek berjalan.
“Tidak boleh ada hal yang menyimpang dari aturan. Tidak boleh atas nama siapa pun, Bapak dan Ibu meminta hal-hal yang tidak diatur,” katanya.
Revitalisasi juga diharapkan tidak melahirkan bangunan sekolah yang hanya tampak baru, tetapi boros energi dan tidak selaras dengan lingkungan.
Purwanto mendorong agar pembangunan sekolah mengadopsi konsep berkelanjutan. Sejak tahap perencanaan, arah angin, pencahayaan, sirkulasi udara, hingga penggunaan material perlu diperhitungkan.
Sekolah, menurut dia, semestinya mampu memanfaatkan sebanyak mungkin pencahayaan dan udara alami. Dengan begitu, kenyamanan warga sekolah dapat meningkat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi.
“Pembangunan harus ramah lingkungan. Angin masuk dari mana, keluar ke mana, itu harus diperhatikan. Manfaatkan sirkulasi udara alami,” ucapnya.
Ruang terbuka hijau pun diminta tetap dipertahankan. Lingkungan sekolah bukan hanya tempat siswa datang untuk belajar, melainkan ruang tempat mereka tumbuh, berinteraksi, dan mengembangkan berbagai keterampilan.
Karena itu, kualitas bangunan dan kualitas lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan revitalisasi. Ukuran keberhasilan program tidak terletak pada seberapa cepat gedung selesai dibangun atau seberapa bagus tampilan bangunannya.
Pertanyaan terpenting justru muncul setelah proyek rampung: apa yang berubah dalam proses belajar siswa? Ruang praktik yang sebelumnya tidak tersedia harus benar-benar digunakan. Laboratorium tidak boleh menjadi ruangan yang hanya dibuka ketika ada penilaian. Fasilitas pendukung harus menjadi bagian dari proses pembelajaran sehari-hari.
“Harus ada relevansi antara sarana dan prasarana yang dibangun dengan peningkatan mutu pembelajaran. Kalau sebelumnya tidak ada ruang praktik, setelah revitalisasi harus bisa digunakan untuk praktik. Pembelajaran praktik harus menjadi lebih baik sehingga keterampilan siswa juga meningkat,” kata Purwanto.
Pesan itu menjadi penting, terutama bagi SMK yang membutuhkan fasilitas praktik sebagai bagian utama pembentukan kompetensi siswa. Dengan kata lain, revitalisasi bukanlah tujuan akhir. Bangunan hanyalah sarana untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih baik.
Di tengah semangat mempercepat pembangunan, aspek keselamatan juga menjadi perhatian. Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengingatkan, pembangunan fasilitas pendidikan harus berjalan beriringan dengan jaminan keamanan.
“Yang paling penting dalam pembangunan ini adalah keamanannya,” ujar Tatang.
Keselamatan berlaku sejak pekerjaan konstruksi dimulai hingga bangunan nantinya digunakan oleh siswa dan seluruh warga sekolah. Bangunan yang baik bukan hanya kuat dan nyaman, tetapi juga mampu memberikan rasa aman. (gin)
Editor : Inilahkoran

