Ribuan Motor Antik Bakal Padati Cirebon, Jamnas MACI XXXI Diikuti 72 Cabang

Kabupaten Cirebon akan menjadi titik temu ribuan penggemar motor antik dari berbagai penjuru Indonesia. Motor Antique Club Indonesia (MACI).

Ribuan Motor Antik Bakal Padati Cirebon, Jamnas MACI XXXI Diikuti 72 Cabang
Kabupaten Cirebon akan menjadi titik temu ribuan penggemar motor antik dari berbagai penjuru Indonesia. Motor Antique Club Indonesia (MACI).

INILAHKORAN.ID-Kabupaten Cirebon akan menjadi titik temu ribuan penggemar Motor Antik dari berbagai penjuru Indonesia. Motor Antique Club Indonesia (MACI) dijadwalkan menggelar Jambore Nasional (Jamnas) XXXI di Stadion Watubelah pada 2–3 Oktober 2026.

Ketua MACI Cirebon, Hadi Saputra, mengatakan kegiatan tersebut diperkirakan dihadiri lebih dari 2.000 peserta. Mereka berasal dari 72 cabang MACI yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

“Estimasi nanti sekitar 2.000 lebih dari seluruh Indonesia. Kami memiliki 72 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia,” kata Hadi, Minggu 6 September 2026.

Dia menjelaskan, Jamnas MACI XXXI tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antarpenggemar kendaraan lawas. Kegiatan itu sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan nilai sejarah yang melekat pada sejumlah motor koleksi anggota.

Salah satu kendaraan yang diperkirakan hadir adalah BSA M20 buatan Inggris tahun 1941. Sepeda motor tersebut merupakan salah satu kendaraan yang digunakan pada era Perang Dunia II dan memiliki dokumen yang menerangkan nilai sejarahnya.

“Motor yang masuk itu ada BSA M20 tahun 1941 dari Inggris. Itu ada sertifikatnya,” ujar Hadi.

Panitia juga menyiapkan kegiatan perjalanan bersama atau rolling menggunakan Motor Antik. Rutenya dirancang melintasi sejumlah lokasi yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan pariwisata di Kabupaten Cirebon serta wilayah sekitarnya.

Hadi berharap, melalui kegiatan tersebut, peserta akan diperkenalkan dengan produk unggulan Cirebon, terutama batik. Pengenalan tidak berhenti pada produk jadi, tetapi juga mencakup proses produksi hingga praktik membatik.

“Untuk rolling, kita juga mengenalkan produk Cirebon, terutama batik. Mulai dari produknya, proses pembuatannya, sampai belajar membatik,” katanya.

Selain batik, panitia akan menampilkan kesenian tradisional dan beragam unsur budaya lokal. Agenda tersebut disiapkan agar peserta dari luar daerah memperoleh gambaran mengenai identitas dan kekayaan budaya Cirebon.

Pemilihan Cirebon sebagai tuan rumah, menurut Hadi, didasarkan pada kekuatan sejarah dan keberagaman budayanya. Cirebon dikenal sebagai salah satu kawasan tua yang mempunyai jejak kerajaan, keraton, serta pertemuan berbagai kebudayaan.

“Kenapa tahun ini memilih Cirebon? Karena Cirebon termasuk kota tua, memiliki sejarah, kerajaan, keraton, dan budaya yang unik. Ada perpaduan budaya Tionghoa, Arab, dan Cirebon,” jelasnya.

Rangkaian perjalanan peserta juga akan menyentuh sejumlah destinasi wisata sejarah dan religi. Anggota MACI yang datang dari wilayah timur Indonesia, misalnya, merencanakan perjalanan menyusuri tempat-tempat yang berkaitan dengan sejarah Wali Songo.

Perjalanan tersebut dimulai dari kawasan Ampel dan dilanjutkan menuju sejumlah lokasi lain sebelum berakhir di kawasan Gunung Jati, Cirebon.

“Teman-teman dari wilayah timur ada yang rolling Wali Songo. Mulai dari Ampel, kemudian menyisir rangkaian tersebut dan terakhir sampai ke Gunung Jati,” ungkap Hadi.

Kehadiran lebih dari 2.000 peserta selama dua hari diperkirakan turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. Sektor perhotelan, penginapan, kuliner, transportasi, UMKM, hingga pengelola destinasi wisata berpeluang memperoleh dampak dari pelaksanaan kegiatan tersebut.

Hadi menambahkan, dengan menggabungkan agenda otomotif, sejarah, budaya, wisata, dan ekonomi kreatif, Jamnas MACI XXXI diharapkan tidak hanya menjadi pertemuan nasional para pemilik Motor Antik, tetapi juga menjadi sarana promosi potensi Kabupaten Cirebon kepada peserta dari seluruh Indonesia.

“Jamnas ini bukan sekadar pertemuan pecinta Motor Antik, tetapi juga menjadi sarana mempromosikan sejarah, budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif Cirebon,” pungkas Hadi.***


Editor : JakaPermana