Rp32,1 Triliun MBG Cair Awal 2026, BGN Klaim Jadi Pencairan Terbesar di Kementerian

Anggaran Rp32,1 triliun cair di awal 2026, BGN klaim ini disebut menjadi pencairan anggaran terbesar di awal tahun yang pernah dilakukan sebuah kementerian.

Rp32,1 Triliun MBG Cair Awal 2026, BGN Klaim Jadi Pencairan Terbesar di Kementerian
Rp32,1 Triliun MBG Cair Awal 2026, BGN Klaim Jadi Pencairan Terbesar di Kementerian

INILAHKORAN.ID - Badan Gizi Nasional mengungkapkan telah menyalurkan dana fantastis senilai Rp32,1 triliun untuk pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hanya dalam kurun waktu sekitar satu setengah bulan pertama tahun 2026. Klaim ini disebut menjadi pencairan anggaran terbesar di awal tahun yang pernah dilakukan sebuah kementerian atau lembaga.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyampaikan sebagian besar anggaran MBG dialokasikan langsung untuk belanja bahan pangan. Rinciannya, sekitar 70 persen digunakan untuk bahan baku makanan, 20 persen untuk operasional termasuk gaji pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan 10 persen sisanya untuk insentif mitra yang terlibat dalam penyelenggaraan program.

Efek Ekonomi MBG Disebut Berlipat

BGN mengklaim belanja negara untuk program MBG memiliki efek pengganda signifikan terhadap perekonomian. Mengacu kajian Badan Pusat Statistik tahun 2025, setiap Rp1 yang dibelanjakan BGN diproyeksikan mampu memicu perputaran ekonomi hingga sekitar tujuh kali lipat.

Sementara itu, prediksi World Bank menyebut investasi di sektor nutrisi berpotensi memberikan imbal hasil jangka panjang hingga 23 kali lipat. Dengan demikian, program MBG dinilai bukan hanya program sosial, tetapi juga investasi ekonomi jangka panjang.

Anggaran Ratusan Triliun Mengalir Langsung ke Daerah

Untuk 2026, total anggaran BGN tercatat mencapai Rp286 triliun, ditambah dana cadangan Rp67 triliun, sehingga total mencapai Rp335 triliun. Sebanyak 93 persen dari anggaran tersebut disalurkan langsung ke SPPG di tiap provinsi melalui KPPN. Setiap SPPG menerima aliran dana sekitar Rp1 miliar per bulan dengan komposisi 70 persen untuk bahan pangan, 20 persen untuk tenaga kerja, dan 10 persen insentif pengelola.

Implementasi MBG disebut berdampak langsung pada peningkatan permintaan bahan pangan. Untuk satu SPPG saja, kebutuhan buah bisa mencapai ribuan unit dalam sekali penyajian. Kebutuhan susu juga melonjak signifikan, ratusan liter per hari untuk satu unit layanan. Dampaknya, sektor pertanian, petani hidroponik, produsen tahu, hingga pelaku industri susu mulai merasakan kenaikan permintaan dan mempersiapkan infrastruktur pendukung seperti cold storage.

Ciptakan Lapangan Kerja Baru

BGN menilai MBG tidak hanya menciptakan permintaan pasar, tetapi juga menjamin penyerapan produk lokal. Setiap SPPG membutuhkan puluhan tenaga kerja dan jaringan pemasok tetap. Dengan skema ini, program MBG diklaim membuka peluang kerja baru di berbagai daerah sekaligus memperkuat rantai pasok pangan lokal.


Editor : Firda Rachmawati