Saluran Irigasi di Pasirjambu Jebol, 3 Hektare Sawah Gagal Panen
Saluran irigasi di lingkungan RW 04 Kampung Sindangsari, Pasirjambu, Kabupaten Bandung, ambruk dan jebol akibat tergerus aliran sungai.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Saluran irigasi di lingkungan RW 04 Kampung Sindangsari, Pasirjambu, Kabupaten Bandung, ambruk dan jebol akibat tergerus aliran sungai.
Akibatnya, aliran air yang menggerus sejak Mei 2026 menuju areal persawahan itu terputus. Sekitar 3 hektare sawah milik warga pun gagal panen.
Selain merugikan petani, kerusakan bendungan juga membuat lingkungan sekitar menjadi kumuh karena aliran air tidak lagi terkendali.
Anggota BPD Desa Cukanggenteng, Jamaludin, mengatakan bendungan yang telah berusia lebih dari 30 tahun itu sebenarnya sudah mengalami kerusakan cukup parah sebelum akhirnya ambruk. Retakan dan lubang pada konstruksi bendungan telah lama terlihat, namun belum pernah mendapatkan perbaikan.
"Irigasinya jebol di lingkungan RW 4 Kampung Sindangsari Desa Cukanggenteng. Dampaknya bukan hanya ke pertanian, tetapi juga lingkungan menjadi kumuh. Sudah hampir dua bulan sejak kejadian pada Mei," ujar Jamaludin di Pasirjambu, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, jebolnya bendungan menyebabkan air irigasi tidak lagi dapat ditampung sehingga pasokan air ke lahan pertanian terhenti. Sedikitnya empat wilayah terdampak, yakni RW 4, RW 11, RW 2 Andir, dan RW 1 Desa Cukanggenteng.
Saat bendungan ambruk, warga bersama pemerintah desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sempat melakukan penanganan darurat secara gotong royong dengan membuat saluran sementara agar air tetap bisa mengalir ke sawah. Namun upaya tersebut belum mampu mengatasi persoalan secara menyeluruh.
Jamaludin mengungkapkan, warga sebenarnya telah berulang kali menyampaikan laporan kepada Pemerintah Kabupaten Bandung, Kecamatan Pasirjambu, Pemerintah Desa Cukanggenteng, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), hingga mengadukan persoalan tersebut kepada salah seorang anggota DPRD Kabupaten Bandung.
Bahkan, kata dia, tim dari Dinas irigasi Pengairan PUTR telah melakukan pengecekan lapangan sejak tahun lalu saat kondisi bendungan mulai mengalami kerusakan. Namun hingga akhirnya longsor terjadi, belum ada realisasi perbaikan.
"Ini tahun kemarin sudah dicek lapangan. Karena dibiarkan lebih dari 30 tahun tidak ada penggarapan lagi, akhirnya terjadi longsor dan semuanya habis. Makanya harus dibuat irigasi baru beserta saluran air yang baru," katanya.
Dia menjelaskan, perbaikan permanen tidak cukup hanya dengan menambal kerusakan, tetapi harus membangun bendungan dan jaringan irigasi baru. Estimasi kebutuhan anggaran mencapai sekitar Rp1 miliar, dengan panjang bendungan sekitar 30 meter, tinggi sekitar 20 meter, serta pembangunan saluran air berukuran 15 x 20 meter.
Menurutnya, proses pembangunan juga memiliki tantangan tersendiri karena lokasi bendungan berada jauh dari akses jalan, sehingga distribusi material konstruksi menjadi cukup sulit.
Warga di RW 1, RW 2, RW 4, dan RW 11 berharap Pemerintah Kabupaten Bandung segera merealisasikan pembangunan irigasi tersebut. Mereka khawatir apabila perbaikan kembali tertunda, musim tanam berikutnya akan kembali terancam gagal akibat minimnya pasokan air ke areal persawahan.
Editor : Doni Ramdhani


