Sampah Diolah Energi Berlimpah

SAMPAH Kota Bandung mencari jalan baru. Di Gedebage, limbah diolah menjadi energi alternatif.

Sampah Diolah Energi Berlimpah
TEKNOLOGI SRF: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus memperkuat upaya penanganan sampah melalui pengembangan teknologi Solid Recovered Fuel (SRF) di kawasan Gedebage. Teknologi tersebut menjadi salah satu solusi strategis untuk mengurangi timbulan sampah sekaligus menghasilkan energi alternatif

Tumpukan sampah selalu menyisakan persoalan. Setiap hari, limbah rumah tangga dan aktivitas perkotaan terus bertambah, sementara ruang untuk menampungnya kian terbatas.

Di tengah persoalan itu, Kota Bandung mencoba mencari jalan lain. Sampah tidak semata dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga sebagai bahan yang masih dapat diolah dan memiliki nilai guna.

Salah satu upaya yang tengah disiapkan adalah pengembangan teknologi Solid Recovered Fuel (SRF) di kawasan Gedebage.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, fasilitas tersebut disiapkan melalui kolaborasi dengan sejumlah pihak, di antaranya pemerintah pusat, Danantara, PLN, dan Pertamina. Teknologi itu diharapkan menjadi salah satu cara untuk mengurangi timbulan sampah sekaligus menghasilkan energi alternatif.

“Pada prinsipnya SRF adalah pengolahan sampah yang menghasilkan arang sebagai sumber energi alternatif yang bisa dimanfaatkan oleh industri maupun PLN,” ujar Farhan saat memimpin Apel Mulai Bekerja di Plaza Balai Kota Bandung, Senin (21/9). 

Fasilitas SRF di Gedebage dirancang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 300 ton sampah setiap hari. Jika berjalan sesuai rencana, sebagian sampah yang selama ini harus diangkut menuju tempat pemrosesan akhir dapat lebih dulu diolah di fasilitas tersebut.

Di situlah gagasan tentang sampah menemukan wajah lain. Sesuatu yang semula dianggap tidak berguna dapat diproses menjadi bahan bakar alternatif berbentuk arang untuk kebutuhan industri maupun pembangkit listrik.

Bagi Kota Bandung, langkah itu bukan sekadar soal teknologi. Persoalan sampah telah menjadi tantangan perkotaan yang membutuhkan penanganan dari hulu hingga hilir.

Karena itu, Farhan meminta para camat dan lurah ikut mengikuti perkembangan proyek tersebut. Kehadiran pemerintah di tingkat kewilayahan dinilai penting agar proses pembangunan berjalan baik sekaligus mendapat dukungan dari masyarakat sekitar.

Sebab, teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Di balik fasilitas pengolahan sampah, ada lingkungan yang harus dijaga, masyarakat yang perlu dilibatkan, dan kebiasaan yang perlahan harus diubah.

Jika pengembangan SRF di Gedebage berhasil, Pemkot Bandung berencana memperluas konsep tersebut ke seluruh enam satuan wilayah kerja di Kota Bandung.

“Kalau ini berhasil, akan kita kembangkan di seluruh enam satuan wilayah kerja Kota Bandung. Karena itu para camat dan lurah harus ikut memperhatikan proses perkembangannya,” kata Farhan.

Dari Gedebage, Bandung sedang mencoba membuka kemungkinan baru: mengubah apa yang selama ini berakhir sebagai beban menjadi sesuatu yang kembali memiliki nilai.

Sampah belum selesai menjadi persoalan. Namun, dari sana pula sebuah ikhtiar untuk menemukan energi baru sedang dimulai. (gin)


Editor : Inilahkoran