Sampah Meluber hingga ke Jalan, Warga PCL Cirebon Tagih Janji Bupati

Aksi protes dilakukan warga PCL Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon dengan memasang spanduk terkait sampah yang membludak di TPS

Sampah Meluber hingga ke Jalan, Warga PCL Cirebon Tagih Janji Bupati
Warha Perum PCL, Talun, Kabupaten Cirebon meggelar protes dengan membentangkan spanduk di depan TPS, Senin (8/6/2026). Mereka mempertanyakan kinerja DPRD dan menagih janji Bupati Cirebon Imron soal permasalahan sampah. Maman Suharman

INILAHKORAN.ID – Warga Perumahan Puri Cirebon Lestari (PCL), Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon, kembali memprotes kondisi Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di kawasan Jalan Sukarno-Warung Asem yang dipenuhi tumpukan sampah hingga meluber ke badan jalan.

Kekecewaan warga memuncak setelah berbagai upaya penyampaian keluhan dinilai belum membuahkan hasil. Sebagai bentuk protes, warga memasang spanduk di sekitar lokasi TPS dengan tulisan, 'Kemana Pajak Kami. sampah Tidak Diangkut. CC: DLH Kabupaten Cirebon Busuk.'

Salah seorang warga PCL, Hantoro, menilai Pemerintah Kabupaten Cirebon belum menuntaskan persoalan sampah yang telah berlangsung cukup lama. Dia menyoroti belum terealisasinya rencana penerbitan surat edaran yang melarang rumah makan di wilayah Kecamatan Beber membuang sampah ke TPS tersebut.

"Katanya Bupati akan mengeluarkan surat edaran agar rumah makan di wilayah Beber tidak membuang sampah ke TPS PCL. Sampai sekarang tidak ada hasilnya. sampah tetap menumpuk bahkan sekarang malah sampai meluber ke jalan," ujar Hantoro, Senin (8/6/2026).

Menurutnya, kondisi semakin parah karena pengangkutan sampah tidak dilakukan setiap hari, sementara volume sampah yang masuk terus bertambah. Dia menyebut sampah dari sejumlah rumah makan menjadi salah satu penyumbang terbesar penumpukan di TPS tersebut.

"Pengangkutan tidak setiap hari. sampah dari rumah makan terus berdatangan. Bisa satu mobil penuh per hari. Akhirnya TPS selalu penuh dan tidak pernah tuntas," ungkapnya.

Hantoro juga mengkritik minimnya peran pengawasan DPRD Kabupaten Cirebon terhadap persoalan yang telah lama dikeluhkan warga tersebut.

"Dewan ke mana Kok diam saja. Kalau dinas tidak mampu bergerak maksimal, DPRD seharusnya menjalankan fungsi pengawasan. Tapi sampai sekarang warga tidak melihat ada tekanan atau langkah nyata untuk menyelesaikan masalah ini," ucapnya.

Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Jaenudin. Menurutnya, langkah penanganan yang dilakukan selama ini hanya bersifat sementara dan belum menyentuh akar persoalan.

Dia menyebut, warga tidak pernah meminta TPS ditutup, melainkan berharap pengelolaan dilakukan sesuai fungsi sebagai tempat penampungan sementara sebelum sampah diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

"Kami tidak pernah meminta TPS ditutup. Yang kami inginkan sampah diangkut secara teratur ke TPA sehingga TPS berfungsi sebagaimana mestinya sebagai tempat penampungan sementara," ujar Jaenudin.

Menurut dia, TPS tersebut tidak hanya menampung sampah dari warga PCL, tetapi juga dari sejumlah wilayah lain di sekitarnya sehingga volume sampah yang masuk jauh melebihi kapasitas.

Selain bau menyengat, warga juga mengeluhkan pembakaran sampah yang kerap dilakukan untuk mengurangi volume tumpukan. Asap yang ditimbulkan dinilai mengganggu kesehatan dan kenyamanan lingkungan.

Sementara itu, Ketua RW 07 Perumahan Puri Cirebon Lestari, Yeyet Nurhayati, meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret dan tidak hanya memberikan janji kepada masyarakat.

Menurutnya, kondisi TPS yang terus dipenuhi sampah berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bagi warga sekitar. Saat cuaca panas, bau menyengat menyebar hingga ke permukiman, sementara populasi lalat terus meningkat.

"Kami tidak butuh janji. Kami butuh tindakan. Jangan sampai warga terus menjadi korban dari buruknya pengelolaan sampah yang tak kunjung beres," tegas Yeyet.

Dia berharap, pemerintah daerah segera menyiapkan solusi permanen dan meningkatkan frekuensi pengangkutan sampah agar persoalan serupa tidak terus berulang.

"Kami berharap persoalan ini bisa segera teratasi dan tidak terus berulang setiap waktu," ujarnya.  


Editor : Ahmad Sayuti