Sang Mantan yang Memberi Kekalahan

ADA malam ketika sepak bola menghadirkan cerita yang sulit dipercaya. Liverpool baru saja menjalaninya.

Sang Mantan yang Memberi Kekalahan
Net

Oleh: Bsafaat

Si Merah datang ke markas Fenerbahce dengan kepercayaan diri tinggi, bahkan sempat dua kali berada di posisi unggul. Namun, di akhir pertandingan, justru mantan pemain mereka yang tersenyum paling lebar.

Liverpool harus pulang dengan kepala tertunduk setelah takluk 2-3 dari Fenerbahce dalam matchday keempat fase liga Liga Champions di Stadion Sukru Saracoglu, Kamis (5/11) dini hari WIB.

Lebih menyakitkan lagi, sosok di balik kemenangan dramatis tuan rumah adalah Dirk Kuyt, mantan bintang The Reds yang kini duduk di kursi pelatih Fenerbahce.

Sempat terlihat akan membawa pulang tiga poin, Liverpool justru kehilangan kendali. Dua gol yang dicetak Trey Nyoni dan Alexander Isak tak cukup untuk mengamankan kemenangan.

Fenerbahce menunjukkan bahwa mereka belum menyerah. Mason Greenwood memperkecil ketertinggalan pada menit ke-29, sebelum Archie Brown menyamakan kedudukan pada menit ke-73. Stadion pun bergemuruh ketika Vedat Muriqi mencetak gol kemenangan lima menit kemudian.

Dalam sekejap, keunggulan Liverpool berubah menjadi kekalahan yang menyakitkan.

Hasil ini sekaligus mengakhiri catatan sempurna Liverpool yang sebelumnya menyapu bersih tiga pertandingan pertama fase liga. The Reds kini tertahan di posisi kedelapan klasemen dengan sembilan poin.

Namun, ada cerita lain yang membuat kekalahan ini terasa lebih emosional bagi pendukung Liverpool.

Dirk Kuyt bukan sosok asing bagi publik Anfield. Selama enam tahun membela Liverpool, sejak 2006 hingga 2012, pria asal Belanda itu dikenal sebagai pemain yang tak pernah berhenti berlari.

Sebanyak 71 gol dari 285 penampilan menjadi bukti kontribusinya. Namun, bukan hanya gol yang membuat Kuyt dicintai. Semangat juang dan etos kerjanya membuatnya mendapat julukan 'Mr Duracell'.

Kini, kenangan itu seolah berbalik arah. Kuyt yang dahulu berjuang untuk Liverpool justru menjadi sosok yang memimpin tim untuk menjatuhkan mantan klubnya.

Ditunjuk sebagai pelatih interim Fenerbahce pada 28 Oktober lalu setelah Ismail Kartal mengundurkan diri, Kuyt langsung mendapat ujian berat. Laga melawan Liverpool menjadi pertandingan keduanya bersama klub Turki tersebut.

Setelah sebelumnya kalah 1-2 dari Goztepe, Kuyt akhirnya mempersembahkan kemenangan yang begitu berarti. Bukan sekadar tiga poin, tetapi juga kemenangan yang mengakhiri penantian panjang Fenerbahce di Liga Champions. Terakhir kali klub tersebut meraih kemenangan di kompetisi ini adalah lebih dari 18 tahun lalu.

Tak heran jika Kuyt menyebut malam itu sebagai sebuah keajaiban.

"Saya sangat senang dengan semua pemain, saya sangat senang dengan semua orang yang terlibat karena kami telah menciptakan keajaiban malam ini. Saya pikir tidak banyak orang yang mengira kami bakal mengalahkan Liverpool," ujar Kuyt seperti dikutip Tribuna.

Kemenangan tersebut juga membuka kembali peluang Fenerbahce untuk melangkah lebih jauh di kompetisi elite Eropa.

"Kami kembali ke kompetisi ini. Saya pikir banyak tim masih harus bermain malam ini, tetapi kami sekarang berada di posisi yang memungkinkan kami bermain di babak play-off. Dan saya pikir kami memiliki peluang besar untuk lolos ke sana," lanjutnya. (bsf)


Editor : Inilahkoran