Sejarah Kerajaan Tatar Sunda Dipersoalkan dalam Kirab Budaya, Ini Penjelasan Ahli

Polemik kirab budaya Milangkala Tatar Sunda mencuat, setelah sejumlah daerah tidak dilibatkan. Protes pun datang, salah satunya dari masyarakat adat

Sejarah Kerajaan Tatar Sunda Dipersoalkan dalam Kirab Budaya, Ini Penjelasan Ahli
istimewa

INILAHKORAN.ID - Polemik kirab budaya Milangkala Tatar Sunda mencuat, setelah sejumlah daerah tidak dilibatkan. Protes pun datang, salah satunya dari masyarakat adat di Kabupaten Garut yang merasa terpinggirkan dari perhelatan budaya tersebut.

Menanggapi hal itu, Ketua Tim Peneliti Hari Jadi Tatar Sunda sekaligus sejarawan, Nina Herlina Lubis angkat bicara. Ia menegaskan, pemahaman sejarah kerajaan-kerajaan di Tatar Sunda perlu diluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memaknai kirab budaya.

“Oleh karena itu, saya, selaku Ketua Tim Peneliti Hari Jadi Tatar Sunda, merasa perlu menyampaikan informasi tentang kerajaan-kerajaan yang ada di Tatar Sunda, yang umumnya memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Sunda,” ujar Nina dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).

Menurut Nina, kirab budaya yang menampilkan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake bukan sekadar seremoni, melainkan simbol sejarah panjang kekuasaan di Tatar Sunda.

Jejak Awal: Dari Salakanagara ke Tarumanagara

Ia menjelaskan, Tatar Sunda merupakan wilayah luas yang membentang dari Banten, Jakarta, Jawa Barat hingga sebagian Jawa Tengah. Dalam catatan awal, keberadaan kerajaan di wilayah ini sudah disebut dalam sumber Tiongkok abad ke-2, meski masih lemah pembuktiannya.

Kerajaan dengan bukti paling kuat adalah Tarumanagara, yang dikenal melalui prasasti dan catatan asing.

“Pusat kekuasaan pertama di Tatar Sunda, yang memiliki bukti-bukti berupa sumber primer berupa prasasti tentang eksistensinya, dan juga termasuk yang awal di Nusantara, adalah Kerajaan Tarumanagara,” jelasnya.

Nama Raja Purnawarman menjadi figur paling menonjol. Sumber sejarahnya berasal dari catatan pendeta Tiongkok Fa-Hsien hingga tujuh prasasti yang tersebar di wilayah Jakarta, Bogor, hingga Banten.
Lahirnya Kerajaan Sunda dan Penetapan Hari Jadi Kerajaan Sunda lahir pada 669 Masehi, setelah berakhirnya Tarumanagara. 

Tokoh sentralnya adalah Sri Maharaja Tarusbawa, yang mengganti nama kerajaan dan memindahkan pusat kekuasaan.

“Pergantian nama kerajaan, disebabkan, Sang Tarusbawa merasa perlu mengabadikan tempat kelahirannya, yaitu Sunda Sembawa (Bekasi),” ungkap Nina.

Ia juga menegaskan, tanggal 18 Mei 669 Masehi telah diusulkan sebagai Hari Jadi Tatar Sunda dan kini telah ditetapkan melalui Peraturan Gubernur (Pergub).

Galuh, Pajajaran, dan Kejayaan Prabu Siliwangi

Di sisi timur, berdiri Kerajaan Galuh yang kemudian bersatu dengan Sunda di bawah Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Masa ini menjadi puncak kejayaan Tatar Sunda dengan pusat pemerintahan di Pakuan Pajajaran.

“Untuk penobatannya sebagai Raja Sunda, Sri Baduga mengenakan mahkota yang dibuat oleh Prabu Bunisora,” katanya.

Mahkota tersebut dikenal sebagai Mahkota Binokasih, simbol legitimasi raja-raja Sunda yang kini masih tersimpan.
Warisan Budaya dan Silsilah Bangsawan
Nina menekankan, banyak wilayah di Jawa Barat memiliki keterkaitan historis dengan kerajaan Sunda, terutama melalui garis keturunan Prabu Siliwangi.

“Boleh dikatakan, bahwa kaum menak (bangsawan) yang menjadi bupati di Tatar Sunda, memiliki silsilah yang pada puncaknya adalah Prabu Siliwangi,” ujarnya.

Ia menilai, daerah yang memiliki warisan pusaka seperti kujang, keris, atau naskah kuno, seharusnya bisa menjadi bagian dari kirab budaya.

“Mungkin tahun depan, pelaksanaan kirab bisa lebih dilengkapi lagi,” tambahnya.

Dari Talaga hingga Runtuhnya Sunda

Selain Sunda dan Galuh, terdapat pula Kerajaan Talaga di Majalengka yang bercorak Buddha. Namun kekuasaannya memudar seiring munculnya Kesultanan Cirebon dan pengaruh VOC.

Perubahan besar terjadi saat Cirebon dan Banten bangkit sebagai kekuatan Islam. Konflik dengan Banten akhirnya mengakhiri Kerajaan Sunda pada 1579.

Sumedanglarang dan Mahkota Binokasih

Pasca runtuhnya Sunda, estafet kekuasaan berlanjut ke Sumedanglarang di bawah Prabu Geusan Ulun. Di sinilah Mahkota Binokasih diselamatkan dan menjadi simbol kelanjutan legitimasi Sunda.

“Mahkota Binokasih (Sanghyang Pake), yaitu mahkota penobatan Raja-raja Sunda diselamatkan oleh empat utusan dan diserahkan kepada Geusan Ulun,” jelas Nina.

Kini, mahkota tersebut disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun di Sumedang dan menjadi ikon utama kirab budaya.

kirab budaya Harus Inklusif

Nina menegaskan, kirab budaya tidak seharusnya eksklusif, melainkan merepresentasikan seluruh warisan sejarah Tatar Sunda.

Ia berharap polemik yang muncul menjadi bahan evaluasi agar ke depan pelibatan daerah lebih luas dan berbasis sejarah yang komprehensif.

kirab budaya, kata dia, bukan sekadar perayaan, tetapi upaya menjaga memori kolektif masyarakat Sunda.

Setelah dilepas dari Sumedang, kirab Napak Tilas Padjadjaran akan melanjutkan perjalanan ke sejumlah daerah, dari Kawali, Ciamis, lalu rangkaian kemudian berlanjut ke Tasikmalaya hari ini, Cianjur, Bogor, Karawang, Depok, hingga Kabupaten Cirebon.

Puncak kegiatan akan digelar di Bandung pada 16 Mei 2026, melalui kirab budaya yang melibatkan seluruh kabupaten/kota se-Jawa Barat. Sehari setelahnya, Minggu malam (17/5/2026), akan digelar pertunjukan kolosal “Peuting Munggaran Milangkala Tatar Sunda” di Gedung Sate. ***


Editor : JakaPermana