Sekda Terima Masukan, DPRD Jabar Dorong Kurikulum Budaya hingga Museum Baru
Evaluasi pelaksanaan Kirab Mahkota Binokasih dalam rangka Milangkala Tatar Sunda mulai mengerucut pada satu arah besar
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Evaluasi pelaksanaan Kirab Mahkota Binokasih dalam rangka Milangkala Tatar Sunda mulai mengerucut pada satu arah besar, menjadikan perayaan budaya ini sebagai fondasi penguatan identitas Sunda secara berkelanjutan.
Tak lagi sekadar seremoni, DPRD Jawa Barat mendorong langkah konkret mulai dari revitalisasi museum hingga integrasi budaya ke dalam kurikulum pendidikan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar, Herman Suryatman mengungkapkan, pertemuan dengan Komisi V DPRD Jabar dipenuhi berbagai masukan strategis yang dinilai konstruktif untuk pengembangan ke depan.
"Masukan ya, pengayaan agar ke depan hari jadi Tatar Sunda bisa lebih optimal. Masukannya sangat konstruktif ya, banyak. Mulai dari jalur hirap, itu nanti kita akan bicarakan," ujar Herman usai bertemu Komisi V DPRD Jabar di Kota Bandung baru-baru ini.
Menurutnya, pembahasan tidak berhenti pada teknis kirab, tetapi meluas pada upaya menghidupkan kembali jejak sejarah Sunda melalui penguatan infrastruktur budaya.
"Kemudian tindak lanjutnya, bagaimana museum-museum, jejak Kerajaan Sunda direvitalisasi. Bahkan tadi juga disampaikan, ke depan ada museum Tatar Sunda," ucapnya.
Lebih jauh, DPRD Jabar juga mendorong agar nilai-nilai sejarah dan kebudayaan Sunda diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan formal sebagai muatan lokal yang terstandarisasi.
"Kemudian bagaimana pemulihan kebudayaan, perestralian kebudayaan ini bisa diaktualisikan juga di kurikulum. Ada muatan lokal yang terstandar untuk SD sampai SMA. Apa itu Padjajaran, apa itu Binokasih, bagaimana gilang-gemilangnya leluhur kita," katanya.
Langkah ini dinilai penting untuk membangun karakter generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akar budaya yang kuat.
"Dan kemudian bisa membangkitkan spirit anak-anak kita untuk menyambut masa depan," tuturnya.
Selain aspek budaya dan pendidikan, DPRD juga menyoroti potensi besar kirab sebagai penggerak sektor pariwisata yang dinilai belum optimal pada pelaksanaan perdana tahun ini.
"Termasuk bagaimana bisa didorong agar dampak terhadap pariwisatannya lebih signifikan. Ini kan baru tahun pertama kita Milangkala Tatar Sunda," ujarnya.
Meski demikian, Herman menilai antusiasme masyarakat menjadi indikator kuat bahwa program ini memiliki prospek besar untuk dikembangkan.
"Tentu tahun depan akan jauh lebih baik lagi. Yang paling penting kan kita berani eksekusi dan ternyata sambutan warga masyarakat itu kan luar biasa," ungkapnya.
Terkait rute kirab, Herman menegaskan bahwa jalur yang dilalui harus memiliki dasar historis yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
"Dan nanti kita diskusikan dan Pak Gubernur kan membuka diri. Tapi tentu kita pun harus pegang kaedah artefaknya, bisa dipertanggungjawabkan secara akademik," paparnya.
Ia menjelaskan, pemilihan Sumedang sebagai titik awal kirab didasarkan pada keberadaan Mahkota Binokasih, artefak penting dalam sejarah Sunda yang tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun.
"Nah sementara yang artefaknya akuntabel dan hari ini ada di Museum Geusan Ulun," katanya.
Mahkota Binokasih tersebut, lanjut Herman, telah diuji secara ilmiah dan dipastikan keasliannya sebagai peninggalan abad ke-13.
"Mahkota Binokasih yang dibuatnya abad 13-an oleh Bunisora. Dan kami sudah cek memang emas 18 karat, 8 kilo. Dan kemudian original, sudah dicek di lab," ungkapnya.
Ia menegaskan, nilai historis inilah yang menjadi dasar dimulainya kirab dari Sumedang sebelum dilanjutkan ke wilayah lain seperti Ciamis.
"Sehingga harus ada prosesi dulu mengambil mahkota untuk dikirabkan. Jadi mulainya dari Sumedang. Kenapa ke Ciamis? Karena asal-muasalnya dari Ciamis," ujarnya.
Kirab budaya ini lanjut Herman, juga dimanfaatkan Pemprov Jabar sebagai sarana monitoring pembangunan infrastruktur, khususnya jalan provinsi yang dilalui rombongan.
"Sekaligus kita memanfaatkan momentum kirab ini untuk monitoring pembangunan. Karena sepanjang perjalanan dari Sumedang ke Ciamis saja kemarin 4 jam lebih," tuturnya.
Dalam perjalanan tersebut, tim melakukan pengecekan langsung kondisi jalan hingga lingkungan sekitar.
"Kita berhenti di situ raja, di Cisitu, di Jatinunggal. Kita berhenti di Lemahsugi, cek-ricek jalan provinsi. Kerapiannya, drainasenya, pohon-pohon di sepanjang sempadan," katanya.
Dengan evaluasi menyeluruh ini, Pemprov Jabar menargetkan Milangkala Tatar Sunda berkembang menjadi agenda strategis yang tidak hanya mengangkat budaya, tetapi juga mendorong pendidikan, pariwisata, dan pembangunan daerah secara simultan.***
Editor : JakaPermana

