Sikap Kami: Ambisi Terlalu Tinggi soal Padi
HANYA teknologi satu-satunya yang bisa meningkatkan profuktivitas gabah di Jawa Barat. Tapi, 11 juta ton pada tahun 2024 ini, tidakkah terlalu berlebihan?
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
HANYA teknologi satu-satunya yang bisa meningkatkan profuktivitas gabah di jawa barat. Tapi, 11 juta ton pada tahun 2024 ini, tidakkah terlalu berlebihan?
jawa barat masih menjadi lumbung gabah sekaligus beras di Indonesia. Produksinya sebenarnya surplus untuk kebutuhan masyarakay Tatar Parahyangan.
Sejumlah daerah menjadi lumbung pangan. Dari Karawang, Indramayu, hingga Bekasi. Belum lagi Cianjur, Garut, hingga Kabupaten Bandung.
Selain karena lahan pertanian dan persawahan yang luas, salah satu yang membuat Jabar jadi lumbung padi adalah tanahnya yang subur. Data BPS menunjukkan satu hektare lahan sawah di jawa barat bisa menghasilkan 5,771 ton gabah kering giling (GKG). Hanya kalah dibandingkan Bali yang mencapai 6,207 ton.
Persoalannya adalah lahan pertanian, utamanya sawah, terus menyusut di jawa barat. Tahun lalu berkurang sekitar 79 ribu hektare. Menjadi 1,58 juta hektare dari 1,66 juta hektare tahun sebelumnya. Terjadi penurunan 4,74%.
Penurunan itu menjadi keniscayaan karena alih fungsi lahan. Pesatnya pertambahan penduduk ditambah migrasi ugal-ugalan, membuat tak sedikit sawah yang kini menjelma jadi perumahan.
Maka, satu-satunya jalan bagi jawa barat untuk meningkatkan produksi gabah adalah teknologi. Mulai dari pembibitan, pemeliharaan, pengairan, hingga panen. Jika di sana stagnan, maka produksi gabah dipastikan turun.
Salah satu yang sedang dilakukan pemerintah saat ini adalah teknologi pengairan. Mengatasi musim yang tak menentu, sistem pompanisasi diharapkan bisa menghubungkan sawah dengan saluran irigasi, sungai, maupun sumber tanah.
Saat ini pompanisasi sudah berjalan cukup efektif di Jabar dengan penggunaan 1.900 unit mesin pompa air untuk pengairan lahan sawah. Pompanisasi terutama bermanfaat saat memasuki musim kemarau.
Tapi, apakah dengan pompanisasi target produksi GKG di Jabar tahun ini akan tercapai? Tunggu dulu. Belum tentu juga. Bukan karena pompanisasi tak bermanfaat, melainkan karena target yang dipasang cukup ambisius.
Jabar memproyeksikan produksi GKG tahun ini mencapai 11 juta ton. Padahal, sebelumnya hanya pada kisaran 9 juta ton. Ada 2 juta ton yang harus dikejar untuk mencapai target.
Sebagai gambaran, produksi GKG Jabat dalam tiga tahun terakhir fluktuatif. Naik-turun. Tapi, masih jauh untuk mencapai 11 juta ton itu. Tahun 2021, 9,11 juta ton. Tahun berikutnya naik menjadi 9,43 juta ton. Tahun lalu turun lagi jadi 9,14 juta ton.
Jadi, kira-kira, dengan pompanisasi, menggenjot produksi GKG hingga 2 juta ton dalam setahun, hemat kita, target yang berlebihan. Dalam sejarahnya, terutama tiga tahun terakhir, tak ada wilayah yang bisa meraihnya. Tapi, kalaupun target itu tercapai, maka itu sesuatu yang patut kita syukuri. (*)
Editor : Zulfirman

