Sikap Kami: Jangan Remehkan Expo
JIKA hendak melihat neraca ekspor-impor nasional, terutama barang industri, pandanglah Jawa Barat. Jika terjadi kontraksi di Jawa Barat, maka itu pulalah yang terjadi secara nasional. Begitu pula sebaliknya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
JIKA hendak melihat neraca ekspor-impor nasional, terutama barang industri, pandanglah Jawa Barat. Jika terjadi kontraksi di Jawa Barat, maka itu pulalah yang terjadi secara nasional. Begitu pula sebaliknya.
Awal tahun ini, aktivitas perdagangan Jawa Barat mengalami penurunan. Dibanding apapun. Dibandingkan bulan yang sama tahun lalu, atau dibanding bulan sebelumnya.
Ekspor Jabar pada Januari 2025 tercatat US$3,02 miliar. Turun 3,93% dibandingkan Desember 2024. Pun nilai impor turun sebesar 7,88% dibandingkan Desember tahun lalu sebesar US$1.08 miliar.
Surplus perdagangan memang masih terjadi, senilai US$1,94 miliar pada Januari 2025. Tapi, nilai ini pun mengalami kontraksi dibandingkan Desember 2024 yang mencapai US$1,98 miliar.
Jabar memang wilayah industri terbesar di Indonesia. Itu pula sebabnya, sektor industri masih jadi penyumbang ekspor tertinggi, yakni 98,58%. Pertanian, migas, atau tambang, bahkan tak mencapai 1%.
Itulah bedanya di level nasional. Secara umum, sektor migas dalam perdagangan nasional, masih memiliki peran hampir 5%. Ekspor migas nasional ini pun mengalami penurunan 31,35% atau senilai US$1,06 miliar.
Melihat kondisi semacam itu, bagaimanakah masa depan perdagangan Jabar? Tidak juga bisa dibilang menggembirakan. Selain kondisi ekonomi dunia yang belum stabil, persaingan di level internasional sedemikian ketatnya.
Tidaklah mengherankan jika kemudian terjadi kontraksi-kontraksi dalam kehidupan industri, termasuk di Jawa Barat. Tahun ini saja, sedikitnya empat industri besar bakal tutup dan menghadirkan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kondisi ini sebaiknya menjadi perhatian Pemprov Jabar, dan terutama pemerintah pusat. Kondisi semacam ini sepatutnya dicarikan jalan keluar sehingga tidak berpengaruh pada lapangan kerja.
Untuk memperbaikinya, tentu tak bisa dilakukan dengan cara-cara tradisional. Selain lobi-lobi, stimulus-stimulus, tak kalah pentingnya adalah membuka pasar yang lebih luas. Hal itu, selain butuh kualitas yang terjaga, juga memerlukan diplomasi-diplomasi internasional.
Maka, itulah sebenarnya diperlukan kunjungan-kunjungan keluar negeri. Mengikuti expo dan pameran. Betul, biayanya mahal. Betul, dia tak bisa diukur dengan cara seketika. Keberhasilan diplomasi perdagangan internasional, baru akan dirasakan beberapa tahun kemudian.
Jika kita tak melakukan itu, jika kita taklid pada efisiensi anggaran bermotif penghematan, maka situasi perdagangan Jawa Barat ke depan, bisa saja akan semakin digelayuti mendung. Kalau itu yang terjadi, maka ekonomi Jabar akan menghadapi tantangan yang tak ringan di kemudian harinya. (*)
Editor : Zulfirman

