Sikap Kami: Plot Twist Tom Lembong
FILM peraih Oscar pun sepertinya kalah dibanding drama yang terjadi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Tom Lembong, terdakwa, seperti sudah menang saja. Dia mengumbar senyum kemana-mana.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
FILM peraih Oscar pun sepertinya kalah dibanding drama yang terjadi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Tom Lembong, terdakwa, seperti sudah menang saja. Dia mengumbar senyum kemana-mana.
Tom Lembong, terdakwa kasus dugaan korupsi importasi gula, belum dinyatakan bersalah, juga tidak bersalah. Proses persidangannya masih berjalan. Tapi, yang akan memutuskan bukan lagi majelis hakim yang sama seperti sebelumnya.
Setidaknya, satu di antara anggota majelis hakim itu berganti. Alfis Setiawan menggantikan Ali Muhtarom.
Kemanakah Ali? Statusnya 11-12 dengan Tom. Jika Tom sudah terdakwa, Ali sudah jadi tersangka. Perkaranya pun sama. Tom tersangkut kasus dugaan korupsi, Ali perkara suap. Tapi, apa yang dilakukan Ali, jika kemudian terbukti di pengadilan, lebih memalukan ketimbang Tom.
Dia adalah bagian dari majelis hakim yang memutuskan putusan ontslag dalam kasus dugaan ekspor minyak sawit mentah (CPO) yang melilit tiga korporasi raksasa. Bersama tiga kawannya, dia mengatur putusan ontslag itu.
Putusan itu tidak gratis. Mereka menerima suap untuk itu. Nilainya pun tak tanggung-tanggung. Kabarnya sampai Rp60 miliar.
Tom, meskipun kasusnya sudah disidangkan, tapi banyak pihak yang masih ragu. Apakah dia betul korupsi? Tak ada aliran dana kepadanya. Betulkah keputusannya sebagai Menteri Perdagangan memperkaya orang lain? Kalau betul, bukankah keuntungan serupa juga dinikmati pihak lain saat Kementerian Perdagangan dipimpin menteri-menteri setelahnya?
Ali, bersama dua hakim lainnya, adalah pihak yang bakal memutuskan nasib Tom. Tapi, sebelum itu, nasibnya sudah terputuskan. Tak kalah buruknya: tersangka kasus suap pengurusan perkara korupsi. Korupsi atas perkara korupsi.
Apa yang terjadi sangatlah mengejutkan. Bagaimana mungkin sebuah perkara dugaan korupsi ditangani oleh hakim yang juga diduga korupsi? Hukum di negeri ini sudah acak kadut.
Apa yang dilakukan Ali sungguh memalukan. Dia bisa kian meruntuhkan kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan. Karena itu, jika terbukti, wajib hukumnya dia menerima hukuman berat.
Sayangnya, negeri ini hanya mengaku berlandaskan hukum. Penegakan hukum tak karuan. Dalam banyak persidangan, putusan-putusan terhadap hakim bejat, tak seperti yang dibayangkan banyak orang. Hakim bejat divonis ringan oleh hakim yang tak kalah bejatnya.
Tapi, setidaknya, Tom sudah bisa tersenyum. Dia menjadi penyaksi langsung plot twist di dunia peradilan kita. (*)
Editor : Zulfirman

