Sikap Kami: Politik Kasar dan Jauw A Loen

KEHALUSAN dan kelemahlembutan budi pekerti adalah perjalanan hidup Jauw A Loen. Kekerasan, apalagi kekasaran yang bisa berlanjut kejahatan, jauh dari kehidupannya. Kini, Jawa Barat yang merugi.

Sikap Kami: Politik Kasar dan Jauw A Loen

KEHALUSAN dan kelemahlembutan budi pekerti adalah perjalanan hidup jauw a loen. Kekerasan, apalagi kekasaran yang bisa berlanjut kejahatan, jauh dari kehidupannya. Kini, Jawa Barat yang merugi.

Budi pekerti dan saling menghargai itu sudah lama dijalani jauw a loen. Salah satu gurunya adalah Buya Hamka. Ulama rendah hati, tapi punya integritas tinggi itulah yang berperan dalam hidup jauw a loen. Buya yang membimbingnya mengucap kalimat syahadat dan menjadikannya anak angkat.

Itu pula yang dia dapatkan dari Siaw Po Swan alias Suwanti Suhaimi, sang ibunda yang tak marah sama sekali saat tahu anaknya mualaf. Suwanti, sehari-harinya seorang guru, bahkan menyiapkan penggorengan baru untuknya saat pertama kali menjalani puas.

Tak mungkin dengan lingkungan seperti itu, jauw a loen, yang oleh Buya Hamka diberi nama Mohammad jusuf hamka, bisa tahan dalam keras dan kasarnya politik. Itulah yang dia rasakan saat sahabatnya, airlangga hartarto, tak ada hujan tak ada angin, mundur sebagai Ketua Umum Partai golkar.

jusuf hamka, kerap juga disebut Babah Alun, semula direncanakan menjadi calon wakil gubernur Jawa Barat, mendampingi Dedi Mulyadi. Begitu getirnya dia menghadapi Airlangga dikasari, sampai dia membuang kesempatan menjadi wakil gubernur Jawa Barat. Dia mundur dari golkar.

Banyak alasan yang disampaikan jusuf hamka. Tapi, rasanya, alasan paling benar adalah ihwal keras dan kasarnya dunia politik kita. Alasan lain itu, rasa-rasanya, hanya pemanis saja. Pelengkap saja.

Politisi kita memang rata-rata sudah kehilangan adab. Kita, sekali lagi, berpendapat politik itu indah jika dimainkan dengan fair play, jujur, dan berintegritas. Tapi, politisi-politisi haus kekuasaan yang merusaknya.

Akan halnya jusuf hamka, mundurnya dia sebagai bakal cawagub, adalah kerugian bagi masyarakat Jabar. Jika dia terpilih, misalnya, warga Jabar akan mendapatkan pemimpin yang sepenuhnya ikhlas menjalankan tugas kepemimpinan. Sebab, Babah Alun sudah tak perlu apa-apa lagi hal-ihwal keduniaan, apalagi yang berlebihan.

Diapun, kita yakini, bukan lagi menguber kekuasaan. Dia hanya diberi tugas partainya, Partai golkar, dan ingin menjalankan sebaik-baiknya: untuk partai dan masyarakat Jabar.

Politik saling tikam, politik saling rampas, menggunakan instrumen kekuatan dan kekuasaan, pada akhirnya hanya akan menghadirkan politik saling sandera. airlangga hartarto, oleh banyak pihak, adalah korban dari semua itu.

Drama ini akan terus berlanjut di hari-hari ke depan. Bahkan mungkin sampai kontestasi demokrasi tahun ini tuntas setuntas-tuntasnya. Mereka, para politisi yang kasar itu, takkan peduli dengan hak-hak rakyat mendapatkan pemimpin terbaik. Sebab, di pikiran dan perut mereka, hanya ada satu kata: kekuasaan. (*)


Editor : Zulfirman