Sikap Kami: Sungkan Kabinet

ADA dua hal yang menarik dari pemanggilan calon-calon menteri ke rumah Presiden Terpilih Prabowo Subianto di Jalan Kartanegara, Jakarta, dari sore hingga tadi malam.

Sikap Kami: Sungkan Kabinet

ADA dua hal yang menarik dari pemanggilan calon-calon menteri ke rumah Presiden Terpilih Prabowo Subianto di Jalan Kartanegara, Jakarta, dari sore hingga tadi malam.

Pertama adalah Prabowo sebagai pemegang hak prerogatif penunjukan menteri, memiliki jiwa yang lapang. Salah satunya terbukti dengan penunjukan Sri Mulyani Indrawati sebagai calon menteri Keuangan.

Sri Mulyani memang jagoan dalam hal-hal menyangkut keuangan, fiskal, dan layak menjadi bendahara negara. Dia sudah menjalankan tugas itu sejak kabinet Susilo Bambang Yudhoyono hingga Joko Widodo. Dan, dia dianggap berhasil.

Tetapi, penunjukan Sri Mulyani itu, secara teori mata publik, bukan tanpa masalah. Hubungan Prabowo dan Sri Mulyani, saat masih menjadi menteri kabinet Jokowi, sempat disebut-sebut dingin. Renggang. Bahkan dalam beberapa kesempatan saling sindir.

Ditunjuknya Sri Mulyani jadi calon menteri Keuangan, bisa jadi karena dua sebab. Bagi Prabowo, urusan negara melampaui soal-soal pribadi. Kedua, dia memang belum melihat ada yang secakap SMI untuk jadi bendahara negara.

Kita patut dukung sikap seperti itu.

Namun, ketika melihat jajaran calon menteri lain yang berdatangan, kita juga layak bertanya-tanya. Apakah Prabowo lupa dengan janjinya yang akan membentuk zaken kabinet? Kabinet para ahli?

Rerata yang datang ke rumahnya adalah para politisi. Tentu, mereka juga orang-orang pintar. Tapi, apakah mereka cocok menduduki portofolio kementerian, itu yang jadi banyak pertanyaan.

Apa yang menarik dari para politisi itu? Layaknya politisi, mereka tak bisa dipegang 100%. Integritas dan kejujuran mereka banyak yang diragukan publik. Kalau mereka punya, tentu takkan riuh soal politik uang selama kontestasi demokrasi untuk mendapatkan kekuasaan. Mendapatkan posisi dengan gelontoran uang adalah sesuatu yang dilarang undang-undang.

Dalam kaitan itulah, kita, sebagaimana juga suara publik yang berdengung, meragukan kemampuan dan efektivitas kabinet ini nantinya. Apalagi, ini kabinet yang lebih gemuk dibanding sebelumnya.

Pembentukan Kabinet Prabowo, dari nama-nama yang dipanggil ke Kartanegara, terlihat sama saja dengan 5-10 tahun lalu. Tak lebih dari sekadar bagi-bagi kursi dengan partai politik dan politisi. Wajar jika publik kemudian berpendapat tak ada bedanya kabinet ini dengan sebelumnya. Apalagi, beberapa di antara menteri yang oleh publik dianggap gagal, tetap bertahan di Kabinet Prabowo.

Kita tentu berharap, kabinet ini bisa bekerja dengan baik dan membanggakan. Tapi, kita juga perlu bersikap waswas. Sebab, sebagaimana ungkapan sebagian warga, ini bukan zaken kabinet, melainkan sungkan kabinet. (*)


Editor : Zulfirman