Sikap Kami: Supriyani dan Siulan Sartono
Jika seorang kaisar saja menghormati guru, apatah lagi kita-kita rakyat jelata, atau sekadar pejabat-pejabat rendahan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
ENGKAU sebagai pelita dalam kegelapan/Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan/Engkau patriot pahlawan bangsa/Tanpa tanda jasa.
Jangan bayangkan Sartono sebagai pencipta lagu zaman sekarang. Bahkan untuk menciptakan lagu Hymne guru itu, dia tak memiliki alat musik lengkap. Jadi? Irama lagu itu dia ciptakan hanya dengan siulan!
Lagunya itu, ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’ memenangkan lomba lagu yang digelar Departemen Pendidikan, 44 tahun lalu. Para pelajar di era Orde Baru, secara periodik menyanyikannya. Menghormati para gurunya.
Betulkah guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa? Sulit untuk membantahnya. Jadi, jika ada yang melecehkan guru, memarahinya, apalagi memperkarakannya, maka dia termasuk kelompok orang-orang yang tak menghargai jasa pahlawan. Pahlawan yang bahkan tak minta dikebumikan di Taman Makam Pahlawan ketika tutup usia.
Maka, ketika Jepang kalah pada Perang Dunia II, yang dicari Kaisar Hirohito bukanlah bala tentaranya, apalagi sekadar polisi. Yang dia cari adalah guru. Sebab, hanya guru yang bisa membuat Jepang bangkit dan mengejar ketinggalan dari negara maju lainnya.
Jika seorang kaisar saja menghormati guru, apatah lagi kita-kita rakyat jelata, atau sekadar pejabat-pejabat rendahan. Takkan ada pejabat rendahan, menengah, atau bahkan pejabat tinggi sekalipun, tanpa sentuhan guru di dalamnya.
Itu sebabnya, apa yang terjadi terhadap guru supriyani di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, adalah hal yang sangat menyesakkan hati buat kita. guru honorer itu diseret ke pengadilan, karena memberikan tindakan pengajaran terhadap anak didiknya.
Entah apapun tindakannya, sepanjang bukan sebuah kekejaman, hemat kita bukanlah perbuatan yang perlu dipersoalkan hingga ke pengadilan. Apalagi kalau hanya sekadar menjewer kuping anak didiknya.
Rasanya tidak ada guru yang ingin menyakiti anak didiknya. Jika ada, maka dia salah masuk jalur. Tindakan-tindakan pendisiplinan adalah sesuatu yang seharus bisa ditolerir. Bahkan zaman dulu, tindakan pendisiplinan itu lebih keras dan tak ada dendam di dalamnya. Justru hal semacam itu yang selalu dikenang anak didik setelah dewasa.
Kini, kasus ini sudah masuk ke pengadilan. Tak bisa dihentikan. Tapi, setidaknya reaksi keadilan dari masyarakat dari seantero Nusantara, sudah cukup rasanya bagi jaksa dan hakim, untuk sebisanya menuntut bebas atau memvonis bebas atas perbuatan semacam itu. Kecuali jika perbuatan supriyani itu memang dimaksudkan untuk menghadirkan tindakan kriminal tertentu.
Kita pun menyesalkan tindakan wali murid, seorang polisi dan istrinya, yang membentengi diri dengan egoisme tinggi, sehingga sulit untuk mencari perdamaian di antara mereka.
Sartono terus bersiul. Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku/Sbagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu. (*)
Editor : Zulfirman

